Kamis, 18 Oktober 2018 12:38 WITA

Pemprov Sulsel dan 20 Kabupaten/Kota Raih Penghargaan WTP dari Kemenkeu

Penulis: Fathul Khair
Editor: Nur Hidayat Said
Pemprov Sulsel dan 20 Kabupaten/Kota Raih Penghargaan WTP dari Kemenkeu
Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, bersama Bupati Bantaeng, Ilhamsyah Azikin.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan 20 kabupaten/kota di Sulsel, menerima penghargaan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) atas opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Penghargaan itu diserahkan di ruang pola kantor gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Kamis (18/10/2018).

Piagam penghargaan WTP itu diserahkan, atas kerja keras dan kesungguhan sehingga berhasil menyusun dan menyajikan LKPD tahun 2017.

20 kabupaten/kota yang meraih penghargaan WTP dari Kemenkeu, yakni Kota Makassar, Palopo, Parepare, dan Kabupaten Bantaeng, Luwu Utara, Pangkep, Sidrap, Soppeng, Bone, Selayar, Sinjai, Pinrang, Toraja Utara, Gowa, Maros, Wajo, dan Luwu.

Opini WTP itu berhasil diraih sejumlah daerah, merupakan bukti atas pengelolaan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan efektifitas sistem pengendalian internal setiap tahun.

Dalam sambutannya, Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah mengatakan, penghargaan WTP dari Kemenkeu tersebut, menjadi bukti dari sebuah kesinambungan pemerintahan.

"Saya baru sebulan gubernur, langsung mendapat penghargaan. Jadi tentu kita patut menyampaikan selamat kepada Bapak Syahrul Yasin Limpo. Beberapa bupati yang baru juga dapat penghargaan. Bupati Bantaeng (Ilhamsyah Azikin) tentu berterima kasih kepada Nurdin Abdullah," kata Nurdin disambut aplaus peserta monitoring dan evaluasi Pemprov Sulsel.

Kata Nurdin, sebagai kepala daerah, sudah semestinya meneruskan pembangunan yang telah diwujudkan kepala daerah sebelumnya.

"Ini wujud sistem. Artinya, sejelek-jeleknya pendahulu kita, pasti ada kebaikannya. Oleh karena itu, kalau mau bangsa ini maju, kita harus maju secara berkesinambungan," tambahnya.

"Jangan karena selera kita berbeda, selera pendahulu kita, kita tinggalkan. Termasuk apapun yang ditinggalkan, punya kewajiban untuk dilanjutkan," ujar Nurdin lagi.