Kamis, 18 Oktober 2018 02:30 WITA

Mana Lebih Utama bagi Masbuk ketika Imam Sudah Selesai?

Editor: Abu Asyraf
Mana Lebih Utama bagi Masbuk ketika Imam Sudah Selesai?
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Sering terjadi, seseorang baru tiba di masjid saat imam telah menyelesaikan salatnya. Timbul pertanyaan, apakah dia salat sendiri, ikut makmum yang belum selesai, atau membuat jemaah baru?

Perlu diketahui bahwa para ulama menggolongkan masjid menjadi dua macam. Pertama, masjid yang tidak memiliki imam tetap seperti masjid di pasar dan tempat lalu lalangnya manusia. Maka di sini diperbolehkan berulangnya shalat jama’ah berdasarkan kesepakatan para ulama, dan hal ini tidak dinilai makruh.

Kedua, ada masjid yang memiliki imam tetap. Maka di sinilah terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama tentang berulangnya jemaah dalam satu masjid diperbolehkan atau tidak.

Pengulangan salat jemaah ada dua bentuk. Pertama, pengulangan jemaah yang bukan menjadi kebiasaan artinya tidak dilakukan sering-sering. Bentuk pertama ini adalah bukan menjadi kebiasaan. Maka pendapat yang lebih tepat, boleh dua orang atau lebih membuat jama’ah berikutnya.

Dalil-dalil yang membolehkan hal ini antara lain hadits Abu Sa’id Al Khudri. Ada seseorang yang datang sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari salat, lalu beliau mengatakan kepada para sahabat, "Siapakah yang mau bersedekah untuk orang ini, yaitu melaksanakan salat bersamanya?" (HR. Abu Dawud)

Kedua, perbuatan Anas bin Malik. Dari Abu ‘Utsman, beliau berkata, “Anas bin Malik pernah mendatangi masjid Bani Tsa’labah. Lalu Anas mengatakan, “Apakah kalian sudah salat?” Kami pun mengatakan, “Iya, kami sudah salat.” Anas pun mengatakan, “Kumandangkanlah azan.” Azan pun dikumandangkan, kemudian Anas melaksanakan shalat  secara berjemaah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, ‘Abdur Rozaq, Ibnul Mundzir)

Ketiga, perbuatan Ibnu Mas’ud. Dari Salamah bin Kuhail, beliau mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud pernah memasuki masjid dan shalat jama’ah telah selesai dilaksanakan. Kemudian Ibnu Mas’ud melakukan shalat secara berjama’ah bersama ‘Alqomah, Al Aswad dan Masruq. (HR. Ibnu Abi Syaibah, ‘Abdur Rozaq, Ibnul Mundzir)

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tidak diketahui pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat Anas dan Ibnu Mas’ud ini. Jemaah kedua tentu diperbolehkan karena salat jemaah tentu lebih utama dari salat sendirian sebagaimana telah dijelaskan dahulu."

Bentuk yang kedua ini berbeda dengan bentuk pertama yang telah dijelaskan. Bentuk kedua ini sudah menjadi rutinitas atau kebiasaan. Misalnya saja sekelompok jemaah atau yang punya pemikiran semazhab membuat shalat jemaah sendiri di pinggiran masjid atau pada waktu lain yang sudah ditentukan, tidak bergabung dengan jemaah imam tetap. 

Bentuk kedua ini sudah pasti adalah sesuatu yang terlarang karena tidak pernah ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi-generasi awal yang terbaik dari umat ini. 

Semacam ini tidak diperbolehkan karena bisa memecah belah jemaah kaum muslimin. Membuat jama’ah kurang bersemangat mengikuti salat jemaah di awal waktu. Inilah yang dinilai menjadi alasan mengapa Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i memakruhkan adanya jemaah kedua di masjid setelah imam salam.