Kamis, 18 Oktober 2018 06:00 WITA

Temuan Terbaru Ahli Tsunami Usai Lakukan Survei di Palu

Editor: Abu Asyraf
Temuan Terbaru Ahli Tsunami Usai Lakukan Survei di Palu
Detik-detik sebelum tsunami menerjang Palu.

RAKYATKU.COM - Gempa dan tsunami masih berpeluang terjadi di Palu dan sekitarnya. Hasil survei ahli menemukan sejumlah fakta yang membuat pemerintah dan warga mesti selalu waspada.

Ahli tsunami Dr Eng Hamzah Latief dari Kelompok Keahlian Oseanografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung baru-baru ini melakukan survei ke Palu dan sekitarnya. Bersama tim, mereka datang pada Rabu (10/10/2018). 

Hasil survei yang dilakukan menunjukkan bahwa tsunami Palu terjadi 6-8 menit setelah gempa. Lewat survei, ahli ITB mengungkap peristiwa dalam perspektif geologi yang terjadi sebelum tsunami menerjang. Hamzah menyebut, proses terjadinya tsunami diawali dengan gempa yang dipicu strike slip Patahan Palu Koro. 

Guncangan itu menyebabkan longsoran sedimen yang oleh aliran sungai dikumpulkan di muara. Ketika lempeng bergerak, sedimen tersebut meluncur jatuh dan menimbulkan tsunami. 

"Teluk Palu ini punya kemiringan dari dangkal sampai ke kedalaman 500 meter. Karena faktor tersebut (longsoran sedimen) telah menambah kenaikan tinggi muka air laut. Tapi penyebab longsoran sedimen belum jelas dari Pantai Talise atau dari mana," ujarnya dikutip di halaman ITB, Rabu (17/10/2018).

Hal tersebut terungkap dalam pengamatan yang dilakukan Hamzah saat meninjau beberapa lokasi kejadian tsunami dari mulai Pantai Watusepu, Buluri dan Talise, Sulawesi Tengah, bersama tim ITB, Pusat Studi Gempa bumi Nasional (Pusgen), LIPI, dan Kementerian PUPR. 

Hamzah juga berkesempatan langsung bertemu warga yang menjadi saksi dan berbincang langsung dengan mereka. Dikatakan, tsunami terjadi begitu cepat dan tiba-tiba setelah gempa terjadi. 

"Tsunami ini menjalar ke segala arah, 6 menit kemudian tercatat di Pantoloan berdasarkan pasang surut dan juga 4 menit di daerah Watusepu," ungkapnya.

Hamzah pun melakukan pengukuran ketinggian tsunami di beberapa lokasi, seperti di bawah Jembatan Kuning Palu atau Ponulele yang ambruk. Ketinggian air bisa diketahui dari sisa-sisa sampah yang menyangkut di dinding tembok jembatan dengan ketinggian sampai lima meter. Di beberapa lokasi lain, ketinggian tsunami bervariasi ada yang tiga meter dan empat meter. 

loading...

"Lokasi kejadian tsunami yang parah berada di Talise, lebih dari 200 mayat ditemukan," kata Hamzah. 

Baik di titik tertinggi maupun titik terendah, tsunami menerjang pantai, menghantam permukiman, hingga gedung-gedung dan fasilitas umum. 

Hamzah melihat ada penurunan muka tanah terutama di daerah Jembatan Ponulele dan di masjid terapung di pinggir laut yang saat ini terendam air. 

"Kemungkinan di sana juga terjadi lateral spreading," katanya. 

Banyak studi penelitian tentang Sesar Palu Koro. Menurutnya, sesar tersebut merupakan patahan aktif di Indonesia dengan pergerakan sekitar 44 milimeter per tahun. Patahan Palu Koro memotong wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. 

ITB sendiri memulai fokus dalam penelitian tentang sesar Palu Koro pada 2012, hasilnya telah disampaikan kepada pemerintah daerah setempat, BNPB, dan staf ahli kepresidenan. 

Secara historis, kata Hamzah, penduduk setempat sudah mengetahui tentang gempa, tsunami dan likuifaksi dengan bahasa-bahasa lokal di sana. 

Hamzah mengatakan, perlu dilakukan kajian pemetaan bahaya tsunami dan dipertimbangkan dalam penataan ruang. Pembangunan ke depan juga harus mempertimbangkan dampak gempa dan tsunami.
 

Loading...
Loading...