Rabu, 17 Oktober 2018 17:13 WITA

Kisah Bayi yang Selamat dari Gempa Palu lalu Diberi Nama Muslimah Wahdah

Editor: Abu Asyraf
Kisah Bayi yang Selamat dari Gempa Palu lalu Diberi Nama Muslimah Wahdah
Jamila dan bayinya. (FOTO: DOK MUSLIMAH WAHDAH)

RAKYATKU.COM - Jamila sedang berbelanja di salah satu swalayan di Palu pada Jumat (28/10/2018). Wanita yang sedang hamil tua itu datang bertiga dengan suami dan anak ketiganya.

Tiba-tiba gedung swalayan itu berguncang. Jamila dan pengunjung lainnya panik. Suami dan anaknya ketika itu sedang menunggu di luar gedung swalayan. Guncangannya makin keras. Beberapa material gedung berjatuhan.

Pengunjung yang juga terjebak di dalam saling berpelukan. Sekitar sepuluh orang. Dari balik dinding yang terbuat dari kaca, Jamila menyaksikan kejadian mengerikan. Bangunan runtuh. Sementara tanah seperti dilipat-lipat.

Tak lama kemudian kebakaran juga terjadi. Api tampak datang dari bawah tanah. Jamila dan pengunjung lainnya berusaha keluar gedung. Ada yang memecahkan dinding swalayan yang terbuat dari kaca agar bisa segera keluar.

Mereka lalu berlari sekencang-kencangnya menuju ke tempat ketinggian. Teriakan warga menyebut "tsunami, tsunami..." bersahut-sahutan. Jamila yang tengah hamil tua berlari tanpa sadar. Lajunya lebih cepat daripada suaminya.

Jamila dan suami tinggal di Perumnas Balaroa, wilayah yang mengalami likuifaksi. Saat berbelanja itu, dia meninggalkan dua anaknya di rumah. Alhamdulillah, dua anaknya juga berhasil diselamatkan saudara kandungnya yang saat itu juga sedang menginap di rumahnya.

Mereka akhirnya memutuskan mengungsi ke Makassar dengan menumpang pesawat Hercules. Mereka ditempatkan di Asrama Haji Sudiang. Karena kondisi yang tak kondusif, Muslimah Wahdah Islamiyah DPC Makassar mengajaknya pindah posko di Jalan Abu Bakar Lambogo Nomor 111, Makassar.

Pada Rabu pagi (10/10/2018), Jamila akhirnya bersalin di Puskesmas Batua. Anak keempatnya lahir setelah melalui perjuangan yang tidak mudah. Bayi itu diakikah tepat pada hari ketujuh, Selasa (16/10/2018).

loading...

Secara mengejutkan, Jamila dan suaminya memberi nama anaknya Muslimah Wahdah. Apa alasannya? Jamila mengaku memiliki banyak kenangan di posko pengungsian Muslimah Wahdah. Tak terlupakan.

"Mereka Tim Muslimah Wahdah Peduli ini terus dan terus mengurusi saya dari awal kedatangan di Asrama Haji Sudiang, proses kelahiran, hingga acara akikah ini. Setiap saat mereka ada untuk keluarga saya. Sampai saya berpikir, apakah mereka ini tidak  punya kerjaan selain saya diurusi? Kenangan terdalam, terindah, dan sangat tak bisa terlupakan," tutur wanita berusia 33 tahun ini. 
  
"Paling utama, saya berharap agar kelak anakku bisa menjadi anak yang sholehah seperti ummi-umminya para Tim Muslimah Wahdah Peduli di posko ini, yang telah banyak membantu kami," lanjut Jamila.

Dia juga mengaku banyak mengambil pejalaran dari peristiwa ini. Dia merasa diberi kesempatan untuk bertobat dan menjadi orang yang lebih baik.

Ketua Departemen Sosial DPP WI Ustazah Herlinda mengatakan, sejak ada informasi bahwa ribuan korban gempa mengungsi ke Makassar, dia segera membentuk tim relawan muslimah. Dia berkoordinasi dengan cabang Wahdah di Makassar untuk memantau titik titik pengungsian

"Alhamdulillah tim awal kemarin meninjau lokasi pengungsian di Asrama Haji. Melihat banyaknya pengungsi yang datang, tim akhirnya buka 15 titik pengungsian untuk menampung korban di 14 kecamatan di Makassar. Sampai akhirnya dibuka 100 titik pengungsian," jelas Ummu Iffah, sapaannya.

Ummu Iffah menambahkan, tim berinisiatif memindahkan Jamila ke perawatan ke tempat yang lebih kondusif sampai melahirkan.

"Tim relawan Muslimah Wahdah diberi tugas khusus mengawal ibu Jamila sampai melahirkan. Relawan muslimah diatur secara bergiliran melakukan pelayanan," tambahnya seperti dilaporkan Nisa, tim Infokom Muslimah Wahdah Islamiyah.
 

Loading...
Loading...