Rabu, 17 Oktober 2018 04:30 WITA

Ini Hasil Kajian BMKG di Sulteng Pascagempa

Editor: Fathul Khair Akmal
Ini Hasil Kajian BMKG di Sulteng Pascagempa
Dampak gempa Palu

RAKYATKU.COM - BMKG sudah melakukan survei terkait bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng). BMKG berhasil memetakan poin-poin penting terkait mitigasi bencana alam, khususnya gempa bumi dan tsunami. 

Bekerjasama dengan Earth Observatory dari Singapore, ada 20 portabel seismograf akan dipasang di sesar di Sulawesi, dan patahan-patahan di sekitar (sesar) Palu Koro.

"Total ada dua puluh yang kita pasang. Kita akan pantau 35 sampai 40 hari ke depannya. Nantinya kita bisa tau dinamika sesar-sesar yang ada," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, Senin (15/10/2018).

Dengan mengetahui dinamika dari aktivitas sesar yang ada di Sulawesi, para peneliti berharap dapat mengerti lebih jauh bagaimana pergerakan dari sesar tersebut sehingga bisa memaksimalkan mitigasi bencana alam berikutnya.

Modelling yang dilakukan juga diharapkan dapat memprediksi sejauh mana jangkauan gelombang tsunami yang akan terjadi ke depannya, dan mempertimbangkan jarak aman untuk pemukiman di daerah pesisir. Tidak hanya itu, BMKG juga melakukan tinjauan soal potensi likuifaksi yang akan terjadi di masa yang akan datang. 

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, untuk sampai hari ini, BMKG mampu memetakan kerentanan tanah yang dibedakan menjadi tiga jenis.

"Kerentanan tanah bisa dibedakan menjadi tiga zona, yaitu rendah yang kurang dari 5, kemudian kerentanan menengah antara 5-15, (dan) indeks kerentanan tinggi di atas 15. Daerah yang menengah dan tinggi ini mutlak sebaiknya dihindari," ujarnya dikutip dari kompas.com.

Ia menambahkan bahwa kajian tersebut dapat digunakan untuk perencanaan tata ruang bagi wilayah Sulawesi Tengah. Menurut dia, BMKG bisa merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk ke depannya wilayah tersebut tidak dibangun kembali. 

"Modelling sangat penting untuk memberikan masukan pertimbangan zona aman ada di mana, zona bahaya ada di mana, sehingga tata ruang bisa dipertimbangkan," jelasnya. 

"Saat ini kita menyadari bahwa kondisinya itu kita rawan gempa. Jadi, kita harus tetap waspada, tetapi jangan panik. Caranya tetap memonitor info kegempaan tentang apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah gempa. Bencana itu tidak hanya gempa, tsunami, dan likuifaksi. Beberapa wilayah sudah musim hujan, berpotensi longsor," pungkas Dwikorita.