Senin, 15 Oktober 2018 17:00 WITA

Detik-Detik Menegangkan Pegawai Unhas Tewas di Tangan Salehuddin

Penulis: Himawan
Editor: Nur Hidayat Said
Detik-Detik Menegangkan Pegawai Unhas Tewas di Tangan Salehuddin
Suasana di PN Makassar, Senin (15/10/2018).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Minggu pagi, (29/4/2018), ketika Sinarsih Najamuddin duduk di ruang tamu, tiba-tiba seorang lelaki memasuki rumahnya dan langsung mengunci pintu. Di tangan lelaki yang diketahui bernama Salehuddin itu, tergenggam sebilah parang. 

Sinarsih yang terkejut langsung berteriak dan menyuruh anak-anaknya serta seluruh penghuni rumah untuk sembunyi di dalam kamar. Malang bagi Sinarsih, Salehuddin (50) langsung mengayunkan parang ke lengan tangan kirinya.

Tak sampai di situ, Saleh juga menebas paha kanan hingga bagian bokong Sinarsih. Sinarsih yang merongrong kesakitan berhasil selamat dari maut karena masuk ke kamar yang ditempati Budi, suaminya yang saat Salehuddin masuk, sedang tertidur lelap. 

"Saya masuk ke kamar dan berteriak minta tolong. Sampai datang adik saya, saya suruh dia minta tolong sama tetangga," demikian kesaksian Sinarsih dalam sidang kasus pembunuhan yang dialami kakak iparnya, Saripuddin Dg Sarro (45) di PN Makassar, Senin (15/10/2018).

Awalnya, Sinarsih mengira ia yang jadi target pembunuhan Salehuddin. Namun belakangan ia tahu ternyata Salehuddin mengincar nyawa kakak iparnya, Saripuddin dg Sarro. 

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Budi, suami Sinarsih yang saat itu juga berada di rumah yang sama di Jalan Tambasa 2, Kecamatan Tamalanrea. Saat kejadian itu Budi langsung terbangun dan sempat menutup rapat pintu kamar saat Sinarsih masuk. 

Budi langsung membalut luka Sinarsih dengan kain untuk menahan darah. Namun, sampai beberapa lama Salehuddin sudah tidak lagi mendatangi istrinya. Saat merasa Salehuddin sudah tidak di rumahnya, ia melihat kakak iparnya, Saripuddin sudah tergeletak tak sadarkan diri. 

"Lengan kiri hancur ada tusukan sebelah kiri, perut sudah terurai ususnya keluar, masih sempat bernyawa, masih sempat tiba di rumah sakit dan meninggal di kamar bedah," kata Budi. 

Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Daniel Pratu, Budi mengungkapkan bahwa Salehuddin membantai kakak iparnya karena merasa tertipu. Beberapa hari sebelum menebas Saripuddin, Salehuddin membeli tanah milik pegawai rektorat Universitas Hasanuddin (Unhas) itu seharga Rp105 juta.

Namun, sertifikat tanah tak kunjung didapatnya. Pihak keluarga Saripuddin mengungkapkan bahwa Saripuddin sebelumnya menjanjikan Salehuddin sertifikat tanah rumahnya. Akan tetapi, untuk memiliki sertifikat itu butuh pengurusan dan biaya lebih. 

"Pak Saripuddin sempat mengatakan kalau untuk urus sertifikat, biayanya lima juta. Masa uang pak Sarip lagi yang keluar kalau untuk sertifikat padahal kan tanah itu sudah punya Saleh,"ujar Risnawati, salah satu kerabat Saripuddin. 

Salehuddin sendiri usai membacok Saripuddin di minggu pagi itu meninggalkan pesan di secarik kertas bertuliskan "SARIPUDDIN SARRO PEMBOHONG PENIPU". Atas kelakuan tidak manusiawinya itu, Salehuddin didakwa pasal 340 KUHP, subsider 338 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati. 

Selain itu, Salehuddin oleh jaksa penuntut umum juga didakwa pasal 355 ayat 2 KUHP dan 351 ayat 2 KUHP.