Sabtu, 13 Oktober 2018 20:55 WITA

Tak Semanis Produknya, Pembuat Gula Merah Jeneponto Tak Mampu Kuliahkan Anak

Editor: Abu Asyraf
Tak Semanis Produknya, Pembuat Gula Merah Jeneponto Tak Mampu Kuliahkan Anak
Saharoddin Daeng Sarro bertahan membuat gula merah dengan pendapatan yang minim.

RAKYATKU.COM,JENEPONTO - Tak ada yang meragukan manisnya gula merah lontar khas Jeneponto. Namun, adakah yang peduli dengan nasib para pembuatnya? Mereka tak mampu kuliahkan anak.

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di depan tungku untuk menghasilkan gula merah. Maksimal 40 biji per sekali masak. Jika semuanya laku terjual, mereka hanya mampu mendapatkan uang Rp130 ribu. Gula merah dijual Rp10 ribu per tiga biji.

Banyak? Rasanya tidak. Untuk menyalakan tungku masak, mereka harus mendatangkan kayu bakar dari jauh. Ongkosnya berkisar Rp500 ribu hingga Rp750 ribu. Itu pun hanya cukup untuk 20 hari.

Saharoddin Daeng Sarro (45), warga kampung Bumbungloe Turatea, Desa Turatea, Kecamatan Tamalatea, mengungkap kehidupan pembuat gula merah di Jeneponto. Dengan penghasilan yang minim itu, dia harus menghidupi istri dan lima anak. Juga berusaha menyekolahkannya.

"Dua orang anak saya sudah tamat SMA. Kedua anak itu tidak bisa melanjutkan kuliah karena biaya. Terus anak yang ketiga sudah SMP, yang keempat masih SD dan terakhir belum sekolah," tutur Daeng Sarro kepada Rakyatku.com, Sabtu (13/10/2018). 

Dia butuh bantuan dan perhatian pemerintah. Adakah cara yang lebih hemat untuk memproduksi gula merah? Pola konvensional yang selama ini digunakan, yakni kayu bakar terasa memberatkan.

Daeng Sarro membayangkan, dirinya memasak gula merah menggunakan tabung gas. Dia belum pernah menghitung mana yang lebih efisien antara memasak gula dengan kayu bakar atau LPG. Dari sisi ini, dia butuh pendampingan untuk membantu menghitungnya.

Satu yang pasti, Daeng Sarro merasa penggunaan kayu bakar lebih merepotkan dan banyak ongkos. "Sementara harga gula biasa-biasa ji," tuturnya. 

Proses Pembuatan Gula Merah

Tak Semanis Produknya, Pembuat Gula Merah Jeneponto Tak Mampu Kuliahkan Anak

Pembuatan gula merah melalui proses yang panjang. Petani terlebih dahulu memilih pohon lontar yang sudah bisa menghasilkan air. Mereka lalu memanjat dan memasang bambu penampung. Mereka menunggu seharian penuh untuk mendapatkan hasilnya.

Jika beruntung, mereka bisa mengumpulkan air pohon lontar yang banyak. Itu kemudian dimasak 4-5 lima jam hingga mengental dan menjadi gula. Air pohon lontar di Jeneponto dikenal dengan istilah "ballo tala".

Sebenarnya, penjualan ballo tala lebih menjanjikan. Harganya jauh lebih mahal. Namun, beberapa tahun terakhir, penjualan ballo tala sudah dilarang. Banyak orang yang menyalahgunakannya. Ballo yang manis itu diolah menjadi minuman pahit yang memabukkan.

Sunarti, istri Daeng Sarro, mengaku sempat menjual ballo tala sebelum beralih ke gula merah.

"Hasilnya jauh lebih bagus dan kerjanya juga tidak rumit. Tapi saya berpikir ini berisiko kepada anak-anak saya ke depannya Pak kalau menjual ballo," tutur Sunarti.