Sabtu, 13 Oktober 2018 20:25 WITA

"Kami Berani, Entah Mengapa Jadi Takut", Pengungsi Sulteng Ingin Kembali ke Palu

Penulis: Himawan
Editor: Abu Asyraf
Pengungsi asal Sulawesi Tengah di Asrama Haji Sudiang, Makassar.

RAKYATKU.COM,MAKASSAR - "Kami ini berani. Tidak takut sama sekali. Tapi tidak tahu kenapa gempa dan tsunami itu bikin saya takut."

Demikian pernyataan Sastra (47), salah satu korban gempa-tsunami Palu yang mengungsi ke Makassar. Di teras wisma Asrama Haji Sudiang, Sastra pada Jumat sore (12/10/2018) sedang duduk bersama keluarganya. 

Sastra tinggal di Jalan Basuki Rahmat, Palu Selatan. Sekitar 3-4 kilometer dari Petobo, wilayah yang tertelan lumpur akibat likuifaksi. Rumah Sastra secara kasat mata tidak hancur tetapi ada sesuatu yang membuatnya ketakutan dan memilih mengungsi ke Makassar. 

"Dapur saya yang berukuran 4x8 meter itu kosong. Kalau lantainya dipijak kayak mau runtuh, tanahnya turun ke bawah, kayak hilang," kata Sastra kepada Rakyatku.Com. 

Sepekan berada di Makassar, Sastra dan keluarganya belum terlepas dari bayang-bayang gempa dahsyat yang memporak-porandakan Kota Palu. Ia mengatakan, bahwa salah satu anaknya masih trauma jika melewati pantai. 

"Masih takut lewat pantai," imbuhnya. 

Meski begitu, Sastra beserta keluarganya mengaku akan tetap kembali ke Palu. Ia mengatakan tak akan berlama-lama sembari mengharapkan bencana alam yang terjadi 28 September itu tidak kembali terjadi. 

"Saya dan keluarga sudah mau kembali. Kehidupan kami ada disana," lanjutnya. 

Senada dengan Sastra, Dinda Abdul Karim (40), pengungsi yang berasal dari Kelurahan Tondo, Kota Palu juga berharap serupa. Dinda berujar bahwa kedatangannya ke Makassar untuk menenangkan diri terlebih dahulu. 

Dinda menyebut ia tak mau tahu keadaan Palu saat ini. Namun bukan berarti ia tak akan kembali ke Palu. Menurutnya, kota Palu adalah tempat mereka mencari nafkah. 

"Saya punya darah Sulawesi Selatan, tetapi bagaimana pun kita akan kembali ke Palu. Saya mau tenangkan diri dulu di sini," kata Dinda. 

Dinda memang mengalami depresi usai gempa mengguncang tempat tinggalnya. Ia selalu menutup telinga jika mendengr suara sirine ambulans. Sirine ini, mengingatkannya pada mayat-mayat yang tergeletak di sebelah kanan-kirinya beberapa hari setelah gempa terjadi. 

"Saya tidak bisa lupa baunya. Kasihan mereka, ada juga keponakan saya dengan ibunya yang meninggal di Petobo," kisah Dinda. 

Pemerintah Sulawesi Selatan sendiri saat ini mempersilakan pengungsi gempa-tsunami Palu untuk tinggal lebih lama di Asrama Haji Sudiang. 

Kepala Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Ilham A Gazaling mengatakan para pengungsi masih trauma. Namun, mereka tidak ingin menetap di Makassar. 

"Mereka ingin kembali tetapi masih takut karena bayangan gempa. Untuk itu mereka juga berharap pemerintah di sana bisa membuat solusi untuk mereka," ujar Ilham saat ditemui di Asrama Haji Sudiang. 

Andi Ile, sapaan Ilham Gazaling, mengungkapkan, ada belasan pengungsi dari Palu yang merupakan warga asli Makassar. Dinas Sosial Kota Makassar ingin memfasilitasi untuk menetap di Makassar. Namun mereka menolak karena sudah merasa nyaman dengan Palu. 

Andi Ile mengaku akan menurunkan beberapa personel tambahan untuk mengatasi trauma para pengungsi. Misalnya, psikolog dari Universitas Hasanuddin, posko kesehatan dari Dinas Kesehatan dan dapur umum. 

"Semua itu kita lakukan untuk menghilangkan trauma mereka. Mungkin sekitar dua hingga tiga pekan kami masih mempersilakan mereka untuk tinggal di sini," tutup Andi Ile.