Sabtu, 13 Oktober 2018 16:25 WITA

Hari-hari Terakhir Khashoggi

Editor: Aswad Syam
Hari-hari Terakhir Khashoggi
Staf Konjen Arab Saudi di Turki mengintip di pintu gerbang (kiri). Jamal Khashoggi (kanan).

RAKYATKU.COM, ISTANBUL - Jamal Khashoggi (59), masuk ke Konsulat Saudi di Istanbul sekitar pukul 13.14 pada 2 Oktober 2018. 

Dia menyerahkan ponselnya ke tunangannya Hatice Cengiz, dan memintanya untuk menunggunya. 

Kepada Hatice, dia berpesan. Jika sesuatu terjadi padanya di dalam, dia meminta Hatice memanggil penasihat untuk Presiden Erdogan dari Turki, dengan siapa Khashoggi berteman.

Hatice menunggu selama sebelas jam. Lama, hingga konsulat ditutup hari itu. Penjaga di luar mengatakan, tidak ada orang di dalam, semua telah pergi. 

Hatice was-was. Khashoggi belum juga keluar dari pintu depan. Dia kemudian menelepon polisi dan memberi tahu teman Khashoggi. 

Khashoggi, wartawan Saudi yang menulis untuk Washington Post itu, dalam pengasingan diri di Washington sejak tahun lalu, pergi ke konsulat untuk mengumpulkan dokumen. Dia butuh dokumen itu, sebagai bukti bahwa dia memang telah menceraikan istrinya yang tetap tinggal di Arab Saudi. 

Khashoggi, rencana melamar Hatice.

Dilansir dari Nationalheraldindia, Konsulat Saudi mengklaim, Khashoggi telah mendapat dokumen-dokumen yang dibutuhkan itu dan pergi, mungkin dari pintu belakang.

Pada hari Sabtu, 6 Oktober, Polisi Turki memberitahukan, bahwa mereka mencurigai Khashoggi terbunuh di dalam konsulat dan tubuhnya dimutilasi lalu diselundupkan. 

Bagaimanapun juga, para penyelidik mengatakan kepada media, bahwa rekaman CCTV membuktikan dia tidak keluar dari pintu depan. Dia juga tidak keluar dari belakang, dilihat dari rekaman CCTV kamera yang dipasang di sekolah taman kanak-kanak, di seberang pintu belakang.

Saudi membantah tuduhan itu. Saudi menyebut, tuduhan itu sangat keterlaluan dan mengatakan mereka sendiri khawatir tentang keselamatan wartawan. 

Mereka mengizinkan sekelompok wartawan mengunjungi konsulat dan memeriksanya, tampaknya membuka lemari untuk mereka lihat. 

Minggu ini mereka mengizinkan masuknya polisi Turki ke konsulat, dan melihat sendiri bahwa Khashoggi tidak ditahan di dalam.

Sementara itu, Washington Post melaporkan, bahwa Badan Intelijen AS telah melakukan intersep yang mengungkapkan, Saudi berencana untuk menangkap wartawan itu.

Lebih banyak rincian keluar, ketika para penyelidik menemukan bahwa dua jet Gulfstream yang disewa oleh Saudi, telah mendarat di Istanbul hari itu. 

Yang pertama mendarat sebelum fajar pada 2 Oktober, dan para pejabat yang memeriksa hotel bintang lima, telah mencapai konsulat dan menunggu di dalam ketika Khashoggi masuk. 

Pesawat ini lepas landas dari Istanbul pukul 10.45 malam dan menuju ke Dubai.

Pesawat kedua mendarat di Istanbul pukul 17.15 sore dan berangkat setelah hanya satu jam dan 15 menit dan kembali ke Riyadh melalui Kairo. Siapa 15 pejabat yang terbang masuk dan keluar dari Istanbul hari itu? Apa misi mereka dan mengapa mereka meninggalkan hari yang sama, tanya polisi.

Lebih buruk lagi, beberapa pejabat ini telah meninggalkan konsulat dalam konvoi enam kendaraan dengan kaca gelap dan pelat nomor diplomatik. 

Ketika mereka sampai di jalan utama, tiga dari mereka berbelok ke kiri, sementara tiga sisanya berbelok ke kanan.

Sebuah van Mercedes, lagi-lagi dengan kaca gelap, meninggalkan konsulat dua jam setelah Khashoggi masuk. Mobil itu dikemudikan 500 meter ke kediaman kepala misi Saudi, di mana ia tinggal selama empat jam.

Penyelidik Turki telah mengetahui, bahwa rekaman CCTV pada hari itu telah dihapus dari tempat tinggal. Dan karyawan Turki yang melayani di kediaman itu "buru-buru" disuruh pergi hari itu. 

Jadi, apakah Jamal Khashoggi masih hidup? Apakah dia dikuasai, dibius dan diterbangkan kembali ke Arab Saudi untuk menghadapi pembalasan karena bersikap kritis? atau, apakah dia dibunuh di konsulat itu sendiri dan tubuhnya diselundupkan?

Dengan berlalunya hari, kemungkinan jurnalis itu masih hidup sangat minim. Tetapi Presiden AS Donald Trump, yang telah memiliki hubungan bisnis yang panjang dengan Istana Saud, atau Erdogan, Presiden Turki, bersedia membicarakan masalah itu, demi seorang jurnalis. 

Hubungan Turki dan Arab Saudi telah tegang, dan telah mendukung Qatar dalam kebuntuan dengan Saudi. Namun kemudian, Turki juga merupakan mitra dagang utama dan tidak ingin mengganggu Amerika Serikat dan Arab Saudi.