Sabtu, 13 Oktober 2018 13:48 WITA

Coretan Relawan Bencana Sulteng: Antara Keluarga, Pekerjaan dan Misi Kemanusiaan

Penulis: Hasrul Nawir
Editor: Aswad Syam
Coretan Relawan Bencana Sulteng: Antara Keluarga, Pekerjaan dan Misi Kemanusiaan
Kurir YMI, Abdillah MS (kanan), Ibrahim La Eman (tengah), dan seorang relawan lainnya di Palu.

RAKYATKU.COM, PAREPARE – Memilih antara keluarga, pekerjaan dan misi kemanusiaan, memang berat. Dilan belum tentu mampu.

Namun, pilihan harus dijatuhkan. Yayasan Manusia Indonesia (YMI) memilih misi kemanusiaan sebagai prioritas. Mereka pun mengantar logistik ke Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, yang sedang ditimpa bencana gempa dan tsunami. 

“Saat hari ke 4 pasca gempa dan tsunami, melanda tiga wilayah di Sulawesi Tengah, kami yang tergabung dalam Yayasan Manusia Indonesia (YMI), yang di dalamnya ada polisi, dosen, jurnalis, guru dan komisioner KPU, serta pengusaha kopi di Kota Parepare, mengantarkan bantuan berupa pakaian, kebutuhan pokok dan kebutuhan bayi. Yang berkecamuk di pikiran kami antara keluarga, pekerjaan dan misi kemanusiaan,“ kata Koordinator YMI Kota Parepare, Abdillah M.S yang juga wartawan salah satu televisi swasta nasional, Sabtu (13/10/2018). 

Meski memilih misi kemanusiaan, para kurir tentu saja tak mengesampingkan keluarga. Mereka tetap harus memikirkan keluarga, juga pekerjaan. 

Namun doa dari keluarga jualah yang menguatkan mereka. Sehingga tak terpikir lagi gempa susulan yang bisa mengancam keselamatan mereka, ditambah penjarahaan saat itu terjadi di mana-mana di wilayah bencana di Sulawesi Tengah. 

“Sebelum memulai tugas Jurnalistik di Kota Parepare. Saya harus mengatar dua anak dan istri. Meninggalkan mereka begitu berat, namun rasa empati kepada saudara-saudara kita yang terkena bencana, membuat hati kami terketuk, untuk menyalurkan sendiri bantuan yang dipercayakan warga Parepare dan sekitarnya di Posko YMI,“ ungkap Abdillah. 

Ada cerita sedih saat rombongan YMI memasuki perbatasan Donggala dan Kota Palu. Saat itu, tiba-tiba ban salah satu truk pembawa Logistik pecah, di tengah malam. Mereka mencari bengkel ban, juga tidak ada. 

“Mungkin saat itu Allah melihat kami yang dalam keadaan ihklas, ingin membantu para korban. Dalam pencarian, tiba tiba seorang pemuda mengendarai motor, yang awalnya kami kira penjarah bantuan, menawarkan kepada kami untuk ke bengkel press ban milik ayahnya,“ terang Abdillah. 

Loading...

Sampai di rumah sang pemuda. Satu satu ban luar milik ayah sang pemuda, sangat cocok dengan ban truk bantuan Polres Parepare, yang dipakai memuat logistik. Usai dipasang, sang pemilik pres ban tidak meminta uang imbalan, serta harga ban luar yang diperdiksi harganya jutaan rupiah. Ia cuma meminta dua dos air mineral kemasan botolan. 

“Kami ingin membayar ban lebih dari harga, karena kami melihat rumah dan bengkel warga tersebut juga rusak akibat gempa. Namun pihak bengkel hanya meminta dua dos air mineral kemasan botol,“ kata Abdillah sambil mengingat kejadian itu. 

Sementara itu, tekad yang bulat untuk membantu korban gempa dan tsunami di Sulteng, juga terketuk dari hati Ibrahim La Leman, seorang dosen dari IAIN Parepare. Meninggalkan dua anak yang masih kecil serta istri tercinta, ia rela lakukan, demi membantu para korban bencana alam di Sulteng. 

“Memang berat meninggalkan keluarga dan pekerjaan, namun untuk misi kemanusiaan dan mengingat mereka masih sangat membutuhkan bantuan. Dengan bismillah saya berangkat bersama teman-teman,” tulis Ibrahim melalui pesan WhatsApp-nya. 

Saat ini, Ibrah (sapaan akrab Ibrahim La Eman) dan kurir YMI lainnya, sedang dalam perjalanan pulang dari Sulteng menuju Kota Parepare. Kata Ibrah, ini adalah pengantaran Logistik tahap II, untuk mereka yang ada di Palu, Sigi dan Donggala. 

“Kami tak akan pernah berhenti membantu mereka. Karena para dermawan di Kota Parepare, masih terus memberikan bantuan yang dititip di Posko YMI, sampai ketiga wilayah yang terdampak gempa dan tsunami benar-benar pulih,“ pungkas Ibrahim.

Loading...
Loading...