Jumat, 12 Oktober 2018 21:43 WITA

Sebut Hoax Datang dari Orang Jahat Bodoh, Akbar Faizal: Hentikan dengan Dua Cara 

Editor: Abu Asyraf
Sebut Hoax Datang dari Orang Jahat Bodoh, Akbar Faizal: Hentikan dengan Dua Cara 
Akbar Faizal

RAKYATKU.COM - Anggota DPR RI asal Partai NasDem, Akbar Faizal menyebut hoax atau kabar bohong datang dari orang jahat bodoh. Apa maksudnya?

Malam ini, legislator asal Sulawesi Selatan itu menyampaikan kultwit tentang sejarah hoax, model, dan dampaknya. Juga apa yang harus dilakukan agar tidak dibodohi para pembuat hoax yang menurutnya jahat durjana ini.

"Hoax adalah informasi bohong yang dibuat oleh orang pintar, namun jahat dan disebarluaskan oleh orang baik tetapi bodoh," kata Akbar di akun Twitter, Jumat malam (12/10/2018).

"Sejak Saracen saya sudah membatin ini hanya awal saja. Berikutnya akan lebih dahsyat lagi. Kearifan bangsa yang susah payah dibangun para perancang dan pendiri bangsa berusaha dirusak tanpa sesal sama sekali. Beruntung Polri sigap menyapu habis mereka. Tetapi apakah benar mereka sudah habis?" lanjutnya.

Akbar lalu menguraikan, sejarah mencatat hoax dalam versinya di masa itu, ikut menjadi pemicu Perang Dunia II. Sebelum 1 September 1939 saat Jerman menginvasi Polandia pada awal PD II, Jenderal (SS) Alfred Naujocks memimpin enam perwira SS menyamar ke wilayah Polandia dan menculik petani Franciszek Honiok, seorang petani.

Jenderal Alfred membawa Francziek Honiok ke sebuah stasiun radio, merancang berita bohong bahwa Polandia telah menginvasi Jerman dan sebentar lagi akan menguasai daerah Jerman lainnya. Tujuan Jerman adalah mencari alasan untuk memulai menginvasi Polandia dan dibuatlah hoax via radio.

Skenario berjalan lancar dan invasi dilakukan. Eropa terbakar yang apinya merambat hingga ke seluruh dunia. "Kita tahu kisah selanjutnya seperti apa. Puluhan juta manusia mati sia-sia," kata legislator Senayan yang terkenal vokal ini.

Lantas, bagaimana wajah hoax di masa medsos ini? Faktanya mengejutkan. Lima besar platform media penyebar hoax, tercatat Facebook 81,25 persen, WA 56,55 persen, Instagram 29,48 persen, Line 11,37 persen, dan Twitter 10,38 persen. 

"Salah satu yang memperparah ruang publik kita adalah banyak pengguna medsos yang sedang belajar berpendapat tetapi merasa semua tahu. Persoalan lainnya adalah kesulitan bagi mereka untuk mengonfirmasi info yang mereka terima, terutama oleh kegagapan literasi kita saat ini," ujar Akbar Faizal.

Dia mengutip survei Mastel 2017. Hoax terbesar adalah isu sosial politik 91,80 persen, SARA 88,60 persen, kesehatan 41,20 persen, makanan/minuman 32,60 persen, penipuan keuangan 24,50 persen, Iptek 23,70 persen. Isu berita duka, bencana alam, lalu lintas, dan candaan di bawah 20 persen.

Menurutnya, hoax lebih banyak didesain untuk mempengaruhi opini publik. Terutama untuk menggambarkan kelemahan pemerintah dan seluruh kebijakannya. Semua isu dimainkan.

Faktor hukum juga menjadi wadah yang subur bagi tumbuhnya hoax ini. Hanya tiga persen masyarakat yang mau melaporkan hoax kepada aparat kepolisian. Padahal, kata Akbar, kepolisian sekarang telah memiliki alat yang sangat canggih untuk mengejar pelaku hoax hingga ke jaringan yang bahkan telah menutup akunnya.

"Sebanyak 31 persen masyarakat bahkan meyakini klarifikasi berita hoax adalah hal yang sulit. Ini sungguh-sungguh sebuah tantangan sebab 53 persen masyarakat kita lebih sering menerima berita/info/data hoax ketimbang berita yang benar dan terklarifikasi," urai anggota DPR yang sudah dua periode duduk di Senayan.

"Sempurna keadaannya sebab hoax dibalut dengan bahasa kebencian. Informasi hoax yang diterima lalu disebarkan lagi dengan menambah unsur dramatisasi kebencian tadi. Polri telah menangani 3.325 kasus hate speech (ujaran kebencian) atau naik 44,99 persen dari tahun sebelumnya, 1.829 kasus," lanjut politikus yang kembali jadi Caleg pada Pemilu 2019 ini.

Pada akhir kultwitnya, Akbar memberi dua tips untuk menghadapi hoax yang disebarkan lewat media sosial. "Jangan beri kesempatan para jahat bodoh itu mengganggu batin dan pikiranmu. Hentikan mereka dengan dua cara, 'unfollow' dan 'block'. Selesai urusan," tutupnya.