Jumat, 12 Oktober 2018 17:35 WITA

Tumpuk 17 Orang Dalam Mobil, Begini Aksi Heroik Jurnalis Palu Sehingga Raih Penghargaan

Editor: Abu Asyraf
Tumpuk 17 Orang Dalam Mobil, Begini Aksi Heroik Jurnalis Palu Sehingga Raih Penghargaan
Dampak gempa Palu

RAKYATKU.COM - Lima jurnalis televisi di Palu, Sulawesi Tengah bergegas menyiapkan liputan pada Jumat sore (28/9/2018). BMKG mengabarkan gempa berkekuatan 5.9 SR pada pukul 15:00 Wita.

Lokasinya 0.35 lintang selatan, 119.82 bujur timur. Jaraknya delapan kilometer barat laut Donggala, Sulteng. Gempa yang terjadi pada kedalaman 10 kilometer itu dinyatakan tidak berpotensi tsunami.

Namun, sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan. Lewat akun Twitter, Humas BNPB melaporkan gempa di darat berasal dari sesar Palu itu mengakibatkan banyak rumah yang rusak. 

Guncangan itu menewaskan satu orang dan 10 lainnya luka-luka. Informasi itu langsung direspons lima jurnalis televisi. Mereka yakni Abdy Mari (TvOne), Ody Rahman (NET.), Rolis Muhlis (Kompas TV), Jemmy Hendrik (Radar TV), dan Ary Al-Abassy (TVRI) sepakat menuju lokasi dengan menumpang satu mobil.

Mereka menuju Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Perjalanan dari Palu ke Sirenja biasanya memakan waktu dua jam dengan menyusuri sisi utara teluk. 

Namun, baru satu jam perjalanan, gempa kembali mengguncang. Saat itu, mereka baru tiba di dekat Pelabuhan Pantoloan. Ody yang mengemudikan mobil langsung berhenti. "Saya langsung tarik rem tangan. Mobil berhenti di tengah jalan," tuturnya.

Guncangan gempa itu sangat kuat. Khawatir terjadi tsunami, mereka menoleh ke laut. Tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada ombak tinggi yang menggulung. "Itu tsunami!" teriak Hendrik panik.

Teriakan itu menyadarkan warga yang mendengar. Teriakan "tsunami" akhirnya bersahut-sahutan. Warga berlarian. Ody dan rekan-rekannya bergegas masuk mobil dan putar balik. Beberapa warga yang berada di dekatnya langsung ditarik masuk mobil.

"Sampai tak ada lagi yang bisa masuk. Ibu-ibu, nenek-nenek, anak-anak, semua histeris dan menangis di dalam mobil yang sesak. Ketakutan dan tercekam," tutur Ody.

Setelah sampai di ketinggian dan merasa aman dari tsunami, semua penumpang keluar. Tanpa sadar, ternyata ada 17 orang dalam mobil itu. Padahal, kapasitasnya maksimal delapan orang, termasuk sopir.

Lima jurnalis itu kemudian memutuskan untuk kembali ke dekat pelabuhan tadi untuk meliput situasi. Tak lama meliput situasi dan kondisi pasca tsunami, lima jurnalis itu ingat keluarga masing-masing di Palu. Mereka panik karena keluarga mereka tidak bisa dihubungi.

Akhirnya mereka kembali ke Palu sambil berusaha mengirim gambar yang mereka dapatkan. Namun, hingga Sabtu, mereka kesulitan mengirim gambar ke studio mereka di Jakarta. Listrik padam. Jaringan telepon seluler tak berfungsi.

"Apa yang dilakukan teman-teman para jurnalis tv di Palu, menurut saya, adalah kesadaran yang tinggi sebagai seorang jurnalis dan kepala keluarga," ucap pendiri IJTI, Erick Tamalagi.