Jumat, 12 Oktober 2018 16:00 WITA

Donald Trump Duga Jamal Khashoggi Dibunuh

Editor: Mulyadi Abdillah
Donald Trump Duga Jamal Khashoggi Dibunuh
Jamal Khashoggi. (FOTO AP)

RAKYATKU.COM - Presiden AS, Donald Trump menduga jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi telah dibunuh di kantor Kedubes Arab Saudi di Istanbul, Turki. Jamal Khashoggi adalah seorang kolomnus yang kerap mengkritik pemerintah Saudi.

Dilansir dari The Telegraph, Trump mengaku tidak percaya dengan klaim Pemerintah Arab Saudi bahwa Mr Khashoggi dalam kondisi aman meninggalkan konsulat sebelum dia menghilang lebih dari seminggu yang lalu. 

“Dia masuk, dan sepertinya dia tidak keluar. Ini tentu tidak terlihat seperti dia ada,” kata Trump kepada Fox News, pada Kamis (11/10/2018) waktu setempat.

Media The Washington Post melaporkan, Pemerintah Turki telah mengatakan kepada para pejabat AS bahwa rekaman audio dan video yang membuktikan Khashoggi disiksa dan dibunuh di dalam konsulat. 

Tidak diketahui apakah pejabat AS telah melihat rekaman atau mendengar audio tersebut. Tetapi, para pejabat Turki telah menggambarkan rekaman itu kepada pejabat AS . 

Pemerintah Turki mengatakan telah menerima permohonan Saudi untuk membentuk "tim gabungan" untuk menyelidiki kasus tersebut. Tidak jelas bagaimana kelompok semacam itu akan berfungsi, mengingat bahwa para pejabat Turki telah menuduh Arab Saudi membunuh dan mencabik-cabik Tuan Khashoggi. 

Partai Demokrat dan senator Partai Republik bersatu untuk mendesak penyelidikan dan mengatakan pemerintah AS harus memeriksa apakah "pejabat elit di pemerintah Arab Saudi" terlibat. 

Sekelompok senator bipartisan mendesak Gedung Putih untuk melakukan penyelidikan dan mempertimbangkan apakah akan ada sanksi terhadap pejabat pemerintah asing yang dicurigai melakukan pembunuhan atau penculikan. 

Trump mengatakan, dia tidak akan mengurangi $ 110 milyar (US $ 83 milyar) dalam penjualan senjata AS ke Arab Saudi jika terbukti bahwa kerajaan telah membunuh Khashoggi.  

"Saya tidak akan mendukung penghentian suatu negara dari pengeluaran $ 110 miliar, yang merupakan rekor sepanjang masa, dan membiarkan Rusia memiliki uang itu dan membiarkan Cina memiliki uang itu," kata Trump. “Apa bagusnya itu bagi kita? Ada hal lain yang bisa kami lakukan,” tandasnya.