Kamis, 11 Oktober 2018 21:06 WITA

Relawan Asing Diusir dari Palu, Gerindra: Pemerintah Arogan

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Relawan Asing Diusir dari Palu, Gerindra: Pemerintah Arogan
Relawan asing yang diusir. Ist

RAKYATKU.COM - Sejumlah relawan asing yang datang ke Palu, Sulawesi Tengah, 'diusir' karena tidak berizin dan tidak berkoordinasi dengan pemerintah. 

Mengenai hal tersebut, Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rahayu Saraswati Djojohadikusum mengaku sikap pemerintah terlalu arogan.

"Ironis dan terlihat arogansi sikap pemerintah terhadap relawan asing, tapi di sisi lain menerima dengan tangan terbuka bantuan barang dan finansial," kata Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Politikus yang akrab disapa Sara ini mengakui bahwa ada aturan soal relawan asing, namun dia menuding pemerintah tidak konsisten soal hal ini. Dia membandingkan kondisi di Lombok dan Palu. 

"Ya memang regulasi itu ada untuk keamanan relawan dan keamanan nasional, tapi selama ini regulasi tidak dijalankan konsisten dari Lombok sampai Palu. Belum lagi minimnya sosialisasi aturan itu yang membuat semuanya terlihat tidak jelas," jelasnya, dikutib Detikcom, Kamis (11/10/2018).

Sara bertanya-tanya kapan pemerintah membuka lebar akses untuk bantuan asing termasuk keahlian dan akses perlengkapan relawan asing. Menurutnya, negara saat ini sudah kesulitan memenuhi kebutuhan korban bencana. 

"Perlu seberapa parah kondisi korban dan lokasi gempa untuk pintu bantuan dibuka seluas-luasnya? Saran saya regulasi cukup dengan 'police background check certificate' yang dimintakan dari setiap relawan asing dan berkolaborasi dengan organisasi lokal," ungkap keponakan Prabowo Subianto itu. 

Sebelumnya Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan perihal para relawan asing ini. Sutopo menyebut para relawan asing itu tidak berizin dan tidak berkoordinasi. 

"Relawan asing yang diminta keluar Palu adalah relawan asing yang tidak memiliki ijin dan tidak berkoordinasi sebelumnya. Mereka menggunakan visa turis," ungkap Sutopo.