Kamis, 11 Oktober 2018 16:59 WITA

Jengkel Dengar Berita Hoaks, Remaja Bulukumba Ini Buat Status FB, Doakan Kajang Tsunami

Penulis: Rahmatullah
Editor: Aswad Syam
Jengkel Dengar Berita Hoaks, Remaja Bulukumba Ini Buat Status FB, Doakan Kajang Tsunami
MR (membelakang) saat diperiksa oleh Penyidik Unit Tipiter Bulukumba (Foto : Rahmatullah/Rakyatku.com)

RAKYATKU.COM, BULUKUMBA - Senin (1/10/2018). MR baru saja bangun. Saat membuka akun Facebook-nya melalui ponsel temannya. Di linimasanya, dia melihat ramai info hoaks. Jembatan Raoa runtuh.

Geram dengan info bohong tersebut, remaja 16 tahun itu pun mengunggah status. "iyaallah mudamudahan gempaki  kajang dan lain2. Dan d iringi sunami.?? matematennu mange".

Status warga Desa Bontobaji, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba itu pun, membuat geram warganet. Terutama mereka yang berdomisili di Bulukumba.

Berapa orang kemudian membuat tangkapan layar, dan memviralkan status MR. 

Karena hal ini, polisi dari Polres Bulukumba memulai penyelidikan. Alhasil, remaja pengangguran tersebut diamankan Bhabinkamtibmas Polsek Kajang, Brigpol Supriadi, yang berkoordinasi dengan Kepala Desa Bontobaji, Ahmad Aswal, Rabu  (10/10/2018) malam.

Saat dimintai keterangan oleh penyidik unit Tipiter, MR mengaku geram dengan informasi hoaks tentang runtuhnya jembatan Raoa di Desa Pantama, Kecamatan Kajang, 5 kilometer dari kampung MR.

"Baru-baruka bangun langsung buka facebook. Saat itu ada yang bilang kalau jembatan Raoa runtuh. Saya jengkelmi, makanya saya pinjam HP-nya temanku baru bikin status begitu," ujarnya.

Sayangnya, kejengkelan remaja putus sekolah ini membuatnya berurusan dengan polisi. Dia bergabung bersama IA, yang ditangkap sehari sebelumnya dengan kasus yang sama.

Kapolres Bulukumba, AKBP Anggi Naulifar Siregar, mengimbau masyarakat untuk mempergunakan media sosial dengan bijak. Dia berharap, pengguna tidak menyebar informasi salah atau palusu serta ujaran-ujaran yang dapat menyinggung khalayak.

Akibat unggahannya itu, MR terancam Undang-undang (UU) Sistem Peradilan Anak. Dengan pasal 45A ayat 2 juncto pasal 28 ayat 2 UU No 19 tahun 2019, tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE), dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.