Kamis, 11 Oktober 2018 05:00 WITA

"Kami Tak Pernah Diperlakukan Begini", BNPB Usir Relawan Afrika Selatan dari Palu

Editor: Abu Asyraf
Relawan asing diusir dari Palu, Sulawesi Tengah.

RAKYATKU.COM - Ada perlakuan berbeda terhadap relawan dalam bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Tak hanya warga Indonesia, sejumlah relawan asing juga diusir. Alasannya, tenaga mereka tidak dibutuhkan.
 
Kasus itu dialami aktivis LSM asal Afrika Selatan, Gift of the Givers. Ahmed Bham mengaku mendapat kabar bahwa Indonesia melarang anggota Urban Search and Rescue Team (USAR) mengangkut jenazah korban. 

"Semua anggota tim USAR harus kembali ke negaranya masing-masing. Mereka tidak dibutuhkan di Indonesia," kisah Ahmed dalam wawancara video kepada AFP, Rabu (10/10/2018).

Padahal, kata dia, relawan yang dikirimkan ke Indonesia bukan tanpa kualifikasi. "Kami memiliki tim SAR yang sangat berpengalaman dengan peralatan khusus. Saya ingin menggunakannya," ujar dia dengan nada kecewa. 

USAR yang beranggotakan 27 orang tiba dari Johannesburg tiga hari silam. Dia mengaku sudah menghabiskan banyak waktu untuk datang ke Palu. Mereka yakin kemampuan yang dimiliki bisa membantu korban gempa dan tsunami. Namun, niat baik itu justru berbuah pahit.

Pengusiran bagi relawan asing diumumkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada Selasa (9/10/2018). Menurut BNPB, LSM asing hanya bisa terjun ke lapangan dengan dampingan ormas lokal, harus mendaftarkan diri ke kementerian terkait dan diminta memulangkan relawannya yang telah berada di lokasi bencana.

Selain itu BNPB juga akan mengawasi semua aktivitas relawan asing di Sulawesi. 
"Relawan asing diatur. Tidak bisa nyelonong seenaknya ke mana-mana. Karena beda kultur, bahasa, dan lainnya. Hal itu biasa terjadi, diatur di semua negara," kata juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho. 

"Presiden sudah mengatakan kita tidak lagi membutuhkan bantuan asing, tetapi mereka tetap datang," katanya.

Namun berbeda dengan klaim Sutopo, Ahmed Bahm menilai kebijakan tersebut justru tidak lazim di negara lain. "Kami tidak pernah mengalami perlakuan seperti ini dalam sebuah bencana besar," imbuhnya. 

Sementara Direktur World Vision Australia, Tim Costello kepada stasiun televisi ABC, dia menilai adalah hal aneh jika wartawan asing bisa bergerak bebas, sementara mereka justru disuruh pulang. 

Sebab itu LSM asing menilai perintah pengusiran tersebut bernilai politis, lantaran Pemilihan Umum yang mendekat. "Faktanya adalah mereka harus mengeluarkan pernyataan bahwa relawan asing harus dipulangkan," kata Costello lagi.

Dia mengklaim mendapat kabar pengusiran dengan dalih bantuan telah mencapai korban, sehingga kehadiran relawan asing tidak lagi dibutuhkan. "Tapi semuanya bergeming. Buat kami yang terbiasa dengan krisis seperti ini, (penyaluran bantuan) terlalu lambat," imbuhnya lagi.