Kamis, 11 Oktober 2018 06:30 WITA

Amalan Bisa Tertolak Tanpa Ilmu, Kenali Dua Syarat Diterimanya Ibadah

Editor: Abu Asyraf
Amalan Bisa Tertolak Tanpa Ilmu, Kenali Dua Syarat Diterimanya Ibadah
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Kalau Anda selama ini sudah rajin salat dan aneka ibadah lainnya,
jangan senang dahulu. Bisa jadi, ibadah yang dilakukan dengan susah payah itu
tertolak. Mengapa?

Setidaknya ada dua syarat agar ibadah diterima di sisi Allah. Selain dilakukan ikhlas
karena Allah, juga harus mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau
dikenal dengan istilah ittiba’. Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan
ibadah menjadi tertolak.

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam
beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al Kahfi: 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
saleh”. Maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). 

"Janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”,
maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya.
Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti
petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah, “Supaya Dia menguji
kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), beliau
mengatakan, “Yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki ajaran Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Lalu Al Fudhail berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak
mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan
diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan
diterima. 

Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan
ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab
apabila mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dua syarat diterimanya amalan ditunjukkan dalam dua hadits. Hadits pertama dari
‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Setiap orang akan mendapatkan
apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena  Allah dan Rasul-Nya, maka
hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia
yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada
apa yang ia tuju". (HR. Muslim No. 35)

Hadits kedua dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama
kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak." (HR. Muslim No.
2808)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Barangsiapa melakukan suatu amalan yang
bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Ahmad)

Para sahabat pun memiliki pemahaman bahwa ibadah semata-mata bukan hanya
dengan niat ikhlas, namun juga harus ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. 

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, "Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” 

Selain itu, terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. 

Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan, “Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”

Mereka menjawab, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami
tidaklah menginginkan selain kebaikan.” 

Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun
tidak mendapatkannya.”

Lihatlah kedua sahabat ini -yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud- meyakini bahwa niat
baik semata-mata tidak cukup. Namun ibadah bisa diterima di sisi Allah juga harus
mengikuti teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa ibadah baik itu shalat, puasa, dan dzikir
semuanya haruslah memenuhi dua syarat diterimanya ibadah yaitu ikhlas dan
mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 

Berita Terkait