Rabu, 10 Oktober 2018 16:18 WITA

Rentetan Gempa di Sulsel dalam 10 Hari Terakhir, Potensi Likuifaksi Hantui Kawasan Reklamasi

Editor: Mulyadi Abdillah
Rentetan Gempa di Sulsel dalam 10 Hari Terakhir, Potensi Likuifaksi Hantui Kawasan Reklamasi
Aktivitas petugas di Kantor BMKG Wilayah IV Makassar.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Selang tiga hari pasca gempa berkekuatan magnitudo 7,4 SR yang mengguncang tiga wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng), sejumlah daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) juga dihentak gempa meski kekuatannya di bawah 5 SR. 

Dalam 10 hari terakhir, setidaknya ada empat titik di Sulsel mengalami gempa dan tidak berpotensi tsunami. Pada penanggalan 1 Oktober, gempa berkekuatan magnitudo 3.1 SR mengguncang Kabupaten Sinjai. Selang dua hari, giliran Kabupaten Luwu Timur (Lutim) yang diguncang gempa berkekuatan magnitudo 4,8 SR. 

Pada 7 Oktober, Kabupaten Bulukumba yang diguncang gempa sebanyak dua kali berturut-turut. Gempa pertama terjadi pukul 13.48 Wita dengan berkekuatan magnitudo 2,8 SR, satu jam kemudian berkekuatan magnitudo 4,8 SR. 

Selasa kemarin, (9/10/2018), gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 4,8 SR mengguncang Kabupaten Wajo. Gempa ini dirasakan sampai di wilayah Kota Palopo. 

Dari empat rentetan gempa tersebut, tiga gempa diakibatkan oleh aktivitas Sesar Walanae. Satu gempa lainnya di Kabupaten Luwu Timur, disebabkan aktivitas Sesar Matano. 

Staf Pusat Gempa dari BMKG Regional IV Makassar Muhammad Imran memaparkan, Sesar Walanae melintasi sejumlah wilayah bagian tengah Sulsel. Mulai dari Kabupaten Pinrang, Barru kemudian menyeberang ke Bone, Sinjai, Bulukumba. Sebagian juga menyeberang ke Selayar. 

"Khusus Wajo dan Sidrap yang kena gempa, perlu diketahui bahwa gempa itu tidak selalu terjadi pas di atas posisi kabupaten atau daerah yang di lalui Sesar. Kemarin terjadi di Wajo karena dekat posisinya dengan Pinrang yang dilalui Sesar Walanae," ungkap Muhammad Imran kepada Rakyatku.com, Rabu (10/10/2018). 

Khusus gempa di Kabupaten Luwu Timur pada 3 Oktober lalu, diakibatkan oleh sesar Matano yang masih cabang dari Sesar Palu Koro. 

"Di Luwu Timur itu beda gempanya meskipun masih masuk bagian Sulsel. Sesar Matano ini perlu diwaspadai karena bisa membahayakan, masih cabang dari Palu Koro," tegasnya.

Sesar Walanae dan Palu Koro

Sesar Walanae diketahui ada di Sulsel pada tahun 1976. Sesar Walanae terakhir aktif pada tahun 1997. Kala itu, gempa berkekuatan magnitudo 5,6 SR melanda Kabupaten Pinrang. 

"Namun gempa yang diakibatkan oleh sesar Walanae ini tidak terlalu membahayakan karena kekuatannya masih di bawah magnitudo 5 SR," ujar Muhammad Imran. 

Katanya, gempa itu prosesnya seperti gerbong kereta. Jika gerbong di depan mengalami tabrakan, maka getaran akan dirasakan sampai di belakang. 

"Itu teori pertama. Teori kedua, bisa saja ini tidak berkaitan karena gempa-gempa yang ada di Majene dan Selayar sudah pernah terjadi sebelumnya. Tapi kekuatannya masih di bawah 5 SR," jelasnya. 

Rentetan Gempa di Sulsel dalam 10 Hari Terakhir, Potensi Likuifaksi Hantui Kawasan Reklamasi

Aktivitas Sesar Walanae, kata dia, sampai saat ini tidak terlalu berbahaya dibandingkan dengan sesar Palu Koro yang mengguncang Donggala, Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018. 

"Kita melihat tingkat bahaya dari sumber gempabumi ada berbagai macam aspek, pertama ada namanya sumber gempabumi yang ada di lautan, subduksi namanya. Artinya proses penunjaman antar lempeng samudra dan benua atau di antara sesama lempeng samudra. Nah itu yang biasanya menimbulkan gempa yang potensinya besar, itu yang terjadi di Aceh terus kemudian di Pangandaran," urai dia. 

Sementara khusus sesar Palu Koro yang mengguncang Donggala, Palu dan Sigi, merupakan sesar yang paling aktif. Tidak hanya di Indonesia, tetapi paling aktif di dunia. 

"Jadi antara Palu Koro dan Walanae beda. Palu Koro lebih besar gempanya dibandingkan dengan Walanae. Sampai sekarang potensi gempa yang diakibatkan oleh Walanae masih lebih kecil dibandingkan dengan Palu Koro. Masih belum bisa menimbulkan gempa yang besar, masih tergolong gempa kecil," ucapnya. 

Terpisah, Pakar Geologi Unhas Adi Maulana mengatakan, gempa di Sulsel yang diakibatkan oleh Sesar Walanae tidak terlalu menimbulkan gempa yang besar. Apalagi dalam sejarah mencatat, Sesar Walanae tidak pernah terjadi seperti di Palu kemarin. 

"Salah satu penyebab utama sehingga Sesar Walanae tidak menimbulkan gempa yang besar karena ada sebagian bidang sesar yang turun sehingga kekuatannya tidak besar," kata Adi Maulana. 

Potensi Tsunami dan Likuifaksi

Sesar Walanae, kata Staf Pusat Gempa dari BMKG Regional IV Makassar Muhammad Imran, sebagian besar berada di daratan. Dengan demikian, potensi tsunami ketika terjadi gempa masih sangat kecil. "Makanya kita berharap tidak terjadi tsunami," kata Imran. 

Bagaimana dengan potensi fenomena likuifaksi di Sulsel? 

Likuifaksi adalah "tanah bergerak" yang melanda Petobo dan Balaroa (Palu) serta Desa Jono Oge (Sigi). Ada ribuan rumah yang tertelan lumpur.

Menurut Imran, potensi terjadinya likuifaksi di Sulsel akibat sesar Walanae memungkinkan bisa saja terjadi. Karena, fenomena likuifaksi terjadi di daerah yang tanahnya lembek, daerah rawa dan reklamasi yang dijadikan perumahan. 

"Kalau di Sulsel, masalah likuifaksi masih harus dipetakan karena potensinya terjadi tetap ada. Karena daerah yang terjadi likuifaksi yaitu daerah rawa dan kawasan reklamasi (Makassar). Maka daerah rawa harusnya tidak boleh dijadikan pemukiman," ungkapnya. 

 

Rentetan Gempa di Sulsel dalam 10 Hari Terakhir, Potensi Likuifaksi Hantui Kawasan Reklamasi

Kondisi pemukiman warga pasca dilanda fenomena 'tanah bergerak' di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu.

Sejatinya, Pemda tidak menerbitkan izin kepada pengusaha property yang membangun perumahan di atas tanah lembek atau daerah rawa. 

"Tetapi Pemda mengabaikan hal itu, tetap memberikan izin developer mendirikan perumahan di atas rawa. Seperti yang terjadi di Palu Perumnas yang terjadi likuifaksi," tandasnya.