Rabu, 10 Oktober 2018 08:43 WITA

"Kita Ini Tidak Ada Keluarga Tentara", Anak Kecil Menangis, Wanita Penderita Kanker Pasrah

Penulis: Syukur
Editor: Nur Hidayat Said
Seorang anak kecil menangis di depan pintu gerbang Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie.

RAKYATKU.COM, PALU - Tepat di pinggir pagar masuk ke Bandara Al Jufri Palu menangis seorang anak kecil. Putri Maulija nama anak yang masih berumur 1,5 tahun itu. Dengan menggunakan pakaian warna merah muda ia menangis di gendongan ibunya.

"Ini anak saya nangis terus, kita sudah lama menunggu padahal ada yang baru datang langsung masuk," ungkap Nurjana, ibu kandung Putri Maulija.

Warga yang tinggal di Batalise tersebut hendak kembali ke Makassar bersama dengan keluarga. Namun, pemberangkatan tidak berjalan mulus. Berulang kali ia memohon agar bisa masuk ke Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, namun tak ada respons dari personel TNI yang bertugas.

"Tolonglah, Pak. Anak kecil saya terjepit, tolong dimasukkan," ungkap Nurjana kepada anggota TNI yang menjaga gerbang.

Tak jauh dari Putri Maulija yang terus menangis, seorang penumpang, Ati duduk di kursi berwarna merah. Wanita ini hanya bisa duduk saat warga lainnya berdesakan. Wanita yang menggunakan jilbab dan baju ungu ini menderita sakit kanker payudara.

Di samping Ati berdiri seorang ibu yang menggunakan pakaian hitam, Rahmayani. Ia berteriak-teriak melihat warga lain yang baru saja datang, namun langsung boleh masuk ke bandara.

"Ini kita sudah dua hari di sini menunggu tidak dibiarkan masuk. Yang baru datang mereka langsung masuk. Kenapa bisa seperti itu? Kita ini tidak ada keluarga tentara," keluh Rahmayani.

Warga Balaroa ini kesal melihat petugas TNI yang bertugas lantaran Ati tidak diperbolehkan masuk. Berulang kali Rahmayani meminta agar Ati saja yang dibolehkan masuk lantaran terjepit di kerumunan warga. Namun, permintaan ini tidak direspons oleh anggota yang bertugas.

"Ini saja yang sakit kasih masuk, Pak. Kasian ini kanker, bernapasnya saja susah. Bapak ini tentara kenapa tidak mengerti sekali," tambahnya.

loading...

Rahmayani juga protes dengan arahan petugas yang disebut berubah-ubah. Iapun tak mau mundur ketika diminta untuk mundur dari pintu masuk.

"Tadi kita disuruh ke sini. Kita disuruh lagi mundur. Yang baru datang saja baru masuk. Kita yang dari kemarin disuruh mundur lagi. Kita mau di belakang lagi," tambahnya.

Di depan pintu pagar memang ada kerumunan warga yang ingin meninggalkan Palu dengan menggunakan pesawat hercules. Akibatnya penumpang berdesak-desakan untuk masuk ke dalam bandara. 

Saat penumpang tujuan Makassar berdesakan di depan pagar, petugas TNI yang bertugas memanggil penumpang tujuan Jakarta.

"Kalau tidak mau diatur tidak ada diberangkatkan. Yang Makassar minggir, yang Jakarta dulu," ungkap petugas yang bertugas di gerbang masuk.

Penumpang tujuan Jakarta masuk dengan melewati kerumunan penumpang Makassar. Penumpang tujuan Makassar protes lantaran sebelum telah diarahkan ke gerbang. Protes penumpang tujuan Makassar terus protes bersamaan dengan penumpang tujuan Jakarta yang terus masuk. Pintu pagar ukuran satu orang dibuka tutup oleh petugas. 

Meski terus protes, tak ada yang melakukan tindakan anarkis. Para penumpang tujuan Makassar hanya protes di mulut. Perlahan penumpang tujuan Makassar kembali tertib berbaris di luar garis yang telah ditentukan. Penumpang tujuan Makassar tetap antre dibawa terik matahari pagi Palu. 

Matahari pagi cukup panas. Penumpang yang antrean berkeringat. Untung disediakan minuman di tengah kerumunan penumpang sebelum ke bandara. 

Dibawa terik matahari petugas beberapa kali memberikan makanan kepada panumpang. Roti dan biskuit. Makaman itu juga dibagikan kepada warga.

Loading...
Loading...