Kamis, 04 Oktober 2018 07:30 WITA

Apa Bedanya Pelaku Maksiat dan Orang Saleh yang Menjadi Korban Bencana?

Editor: Abu Asyraf
Apa Bedanya Pelaku Maksiat dan Orang Saleh yang Menjadi Korban Bencana?
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Gempa dan tsunami yang melanda Palu dan sekitarnya mengandung hikmah besar. Dalam Alquran dan hadis sudah banyak peringatan. Ketika Allah murka, bukan hanya pelaku maksiat yang kena dampaknya.

Nah, selama ini ada anggapan bahwa bukanlah maksiat yang mengundang bencana. Buktinya, di banyak daerah dan banyak negara, maksiat berlangsung terang-terangan, namun mereka aman-aman saja.

Jika Anda menginginkan setiap orang yang ketika berbuat maksiat tiba-tiba disambar petir dari langit lalu mati, tentulah semua orang serta-merta akan menjadi saleh semua. 

Tidak akan ada lagi maksiat. Tidak ada ujian keimanan. Tidak ada lagi taubat. Tidak ada lagi amar ma’ruf nahi mungkar. Tidak akan ada lagi istilah ‘maksiat’ di dalam kamus, dan mungkin bumi ini sudah bisa disebut surga.

Inilah bagian dari misteri ilahi. Allah Ta’ala terkadang menimpakan musibah pada kaum bejat saja, sebagaimana kaum Ad dan kaum Tsamud dikarenakan kebejatan mereka. Dan terkadang Allah menimpakan musibah kepada kaum yang di dalamnya terdapat orang saleh juga. 

Allah Ta’ala berfirman, "Takutlah pada musibah yang tidak hanya menimpa orang zalim di antara kalian saja. Ketahuilah bahwa Allah memiliki hukuman yang pedih." (QS. Al Anfal: 25)

Dalam hadis dari Ummu Salamah, istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, "Jika maksiat telah menyebar di antara umatku, Allah akan menurunkan azab secara umum."

Ummu Salamah bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang saleh?" Rasulullah menjawab, "Ya". Ummu Salamah berkata, "Mengapa mereka terkena juga?" 

Rasulullah menjawab, "Mereka terkena musibah yang sama sebagaimana yang lain, namun kelak mereka mendapatkan ampunan Allah dan ridha-Nya." (HR. Ahmad)

Inilah sebijak-bijaknya kebijakan dari Dzat Yang Paling Bijak. Karena dari kebijakan ini ribuan bahkan jutaan hikmah yang dapat dipetik oleh manusia, di antaranya adalah kesempatan bagi pelaku maksiat untuk bertaubat. Juga kesempatan untuk orang saleh untuk menuai pahala dan mempertebal keimanannya.

Berita Terkait