Selasa, 02 Oktober 2018 17:28 WITA

Kisah Satu Keluarga Asal Parepare yang Selamat dari Gempa dan Tsunami Sulteng

Penulis: Hasrul Nawir
Editor: Nur Hidayat Said
Kisah Satu Keluarga Asal Parepare yang Selamat dari Gempa dan Tsunami Sulteng
Ridawati terbaring lemah di Ruang Intalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Makkasau.

RAKYATKU.COM, PAREPARE - Ridawati terbaring lemah di Ruang Intalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Makkasau. Di tangan kanannya terpasang jarum infus sementara di hidungnya masih dipasangi alat pernapasan.

Warga Kota Parepare yang baru saja tiba, Selasa (2/10/2018), merupakan salah satu korban bencana gempa bumi dan tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018) lalu.

Dia dijemput oleh kakaknya di tempat pengungsian tidak jauh dari rumahnya yang kini menjadi puing di Jalan Bayam, Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.

Perempuan 42 tahun ini masih mengingat pengalaman antara hidup mati saat permukimannya diluluhlantahkan oleh gempa dengan 7,7 magnitudo yang disusul gelombang tsunami.

"Tubuh saya terpental saat gempa mengguncang, saat itu saya di teras rumah sedang berbincang dengan tetangga. Guncangan dibarengi dengan bergelombangnya tanah dan naiknya lumpur membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa," kenang Ridawati.

Ia mengatakan, dirinya selamat saat putrinya yang duduk di bangku kelas XII SMA merangkulnya bersama dengan fondasi. "Saat saya terus terbentur dari tembok yang satu dengan tembok yang lain di lorong, anak saya, Adelia memeluk saya sambil memegang fondasi yang ada di depan rumah dalam," ungkapnya.

Kala terjadi gempa, Ridawati hanya berdua anaknya di rumah sedangkan suaminya belum pulang kerja. "Seandainya tidak ada anak saya, tidak tahu bagaimana nasib saya. Anak saya selama gempa terjadi hampir dua menit itu, memeluk dan menjepit saya bersama fondasi," ungkapnya.

Pasca gempa dasyat itu, Ridawati mengaku bertahan di tanah lapang bersama anaknya. "Satu malam dengan kondisi masih terus terjadi gempa, saya bersama anak dan beberapa tetangga bertahan di tanah lapang," kisahnya.

loading...

Sabtu pagi (29/9/2018), dirinya bersama tetangga dan anaknya mengungsi ke dataran lebih tinggi. "Kami mengungsi pada hari kedua. Kami pindah ke tempat yang lebih tinggi, kebetulan ada mobil tetangga yang kita gunakan," ujarnya.

"Selama dua hari dua malam di pengungsian kami makan nasi mentah dan air hujan untuk bertahan. Selama di pengungsian ini tak ada bantuan. Kami ketemu tentara, dia bilang silakan ambil saja di minimarket daripada mati kelaparan," ceritanya lagi. 

Bertahan selama dua hari dua malam, akhirnya Ridawati bersama anaknya bisa bertemu dengan suaminya, Saharuna. Ketiganya dibawa ke Parepare setelah kakak Ridawati yang sedang berada Mamuju datang menjemputnya di Palu.

Sementara itu Adelia, anak Ridawati mengaku hanya memikirkan keselamatan ibunya yang terpental beberapa meter.

"Saya juga tidak tahu, bagaimana saya bisa langsung sampai di tempatnya ibuku, ada kakuatan yang membuat saya kuat," jelas dia.

Meskipun selamat, satu keluarga ini kini menjadi tunawisma, tidak ada satupun harta benda yang bisa diselamatkan saat musibah terjadi. "Kami masih trauma, hanya baju di badan yang kami pakai," katanya.

Loading...
Loading...