Selasa, 02 Oktober 2018 13:53 WITA

Laporan Jurnalis Rakyatku.com dari Palu

Kisah Perjuangan Sumardi Lolos dari 'Tanah Bergerak' Pasca Gempa Palu

Editor: Mulyadi Abdillah
Kisah Perjuangan Sumardi Lolos dari 'Tanah Bergerak' Pasca Gempa Palu
Sumardi saat meninjau lahan rumahnya yang tak karuan di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

RAKYATKU.COM, PALU - Sumardi (60) kini cuma bisa memandang lahan rumahnya yang tak karuan di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Bangunan rumahnya sudah porak poranda akibat 'tanah bergerak' (likuifaksi) pasca gempa yang mengguncang Kota Palu pada 28 September 2018.

Sumardi (60) adalah salah satu saksi hidup atas fenomena mengerikan dan mencekam itu. Petobo diketahui daerah yang mengalami fenomena 'tanah bergerak' dan menjadi lumpur menelan rumah-rumah yang ada. 

Pria perantau asal Yogyakarta ini selamat bersama dua anaknya, Dwi Agus Sunarti (30) dan Sri Lestari (23). Kepada jurnalis Rakyatku.com, ia menceritakan perjuangannya lolos dari bencana 'tanah bergerak'.

Pada sore itu, Sumardi sedang berada di samping rumahnya. Guncangan kecil mulai terasa. Tak biasanya, guncangan kali ini justru kian menguat.

Ia bersama dua anaknya bergegas berlari ke depan rumahnya. Tak berselang lama, ia menyaksikan rumahnya sudah terbelah dua. 

"Bagian tengah (rumah) terangkat, dapur jatuh ke kanan dan sebagian jatuh ke kiri," kisah Sumardi saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (2/10/2018).

Kisah Perjuangan Sumardi Lolos dari 'Tanah Bergerak' Pasca Gempa Palu

Suasana masih begitu mencekam. Mereka akhirnya bergegas menjauh dari rumahnya. Ketika melangkah, Sumardi menyaksikan tanah retak, terangkat dan bergerak alias bergeser.

"Saat tanah bergerak kami tetap berusaha selamatkan diri. Kami berjalan. Kami berhenti di atas tanah yang sementara bergerak. Kami sebisa mungkin menghindari terjatuh ke dalam celah tanah," urai Sumardi yang sudah berada di Palu sejak tahun 1985. 

Insiden mencekam ini membuat salah satu anak Sumardi tak sadar diri. Tanah terus bergerak dan langit mulai gelap. "Anak saya sempat pingsan. Bersyukur kita bisa selamat," ucap Sumardi.

Sumardi dan anaknya bersyukur masih bisa lolos dari bencana hebat itu. Empat hari pasca kejadian, ia mendatangi tanahnya dan mencari beberapa barang miliknya yang bisa diselamatkan dari puing-puing rumahnya.

Kisah Perjuangan Sumardi Lolos dari 'Tanah Bergerak' Pasca Gempa Palu

Rumah yang dibangunnya bersama mendiang istrinya melalui hasil usaha kelapa muda, kini rata dengan tanah. "Tidak ada yang bisa diselamatkan," ungkapnya sambil menitikkan air mata. 

"Isteri saya sudah meninggal, tepat 100 hari saat kejadian (bencana). Rumah ini dibangun tahun 1995, tapi baru ditempati tahun 2002," lanjut Sumardi dengan mata berkaca-kaca.

Saat ini, Sumardi tak tahu berbuat apa. Bantuan pun belum diterima. "Belum ada bantuan makanan. Air bersih juga tidak ada," tandasnya.