Sabtu, 29 September 2018 17:47 WITA

Tsunami Terjang Palu, Warga Panjat Pohon Setinggi Enam Meter

Editor: Mulyadi Abdillah
Tsunami Terjang Palu, Warga Panjat Pohon Setinggi Enam Meter
Sumber Foto: Humas BNPB

RAKYATKU.COM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperbarui data korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. 

Hingga Sabtu siang (29/9/2018), tercatat sebanyak 384 orang meninggal dunia di Kota Palu. Banyaknya korban ini akibat tersapu tsunami. 

BNPB menyebut, tinggi tsunami di Palu sempat mencapai lima meter. Posko BNPB juga telah mengkonfirmasi ke BPBD bahwa tsunami menerjang Pantai Talise di Kota Palu.

"Tsunami kami menemukan ada yang tingginya mencapai lima meter. Kami dapat laporan tadi ada orang yang menyelamatkan orang dengan naik ke pohon yang tingginya hampir 6 meter," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantornya, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (29/9/2018).

Dilansir dari detikcom, BNPB akan berkoordinasi dengan para ahli tsunami dari ITB, LIPI, BPBD, dan instansi lain untuk terjun kembali ke lokasi untuk mendata. Sehingga hasil pendataan ini bisa jadi pembelajaran bagi masyarakat.

"Berapa tinggi tsunami, bagaimana faktor penyebabnya, kemudian menjadi pembelajaran ke depan," tuturnya.

Diberitakan, gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, pukul 17.02 WIB, pada Jumat (28/9/2018). Sebelumnya gempa terjadi pukul 14:00 WIB dengan magnitudo 6. Gempa mengakibatkan tsunami setinggi 1,5–2 meter yang menerjang Palu dan Donggala. 

Sejarah Gempa dan Tsunami Donggala

Sutopo menambahkan, Donggala dan Palu punya sejarah kebencanaan yang cukup panjang. Gempa dan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9) kemarin bukan peristiwa yang pertama terjadi.

loading...

Masyhuddin Masyhuda dalam artikelnya berjudul Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Sulawesi Tengah, gempa dan tsunami besar pernah terjadi di Donggala pada 1938 dan 1968.

“Pada 1938 terjadi gempa yang hebat menyebabkan air laut naik menyapu rumah-rumah dan pohon kelapa rakyat di sepanjang pantai Kampung Mamboro, di tepi pantai Barat Kabupaten Donggala,” tulis Masyhuddin dilansir dari Historia.

Dalam Newsletter, Vol. I No. 3 (5 September 1968) yang diterbitkan International Tsunami Information Center di Hawaii, tercatat dua kali gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 1968.

Pada 10 Agustus 1968 terjadi gempa bermagnitudo 7,3 dengan pusat gempa di Laut Sulawesi. Badan Penanggulangan Bencana Alam Indonesia mengumumkan bahwa gelombang tsunami besar menyapu kawasan pantai di Donggala. Dua ratus orang tewas dan banyak rumah hancur terutama di desa pesisir Tambu. Tsunami juga menghantam Pulau Tuguan di lepas pantai Sulawesi Utara yang berpenduduk beberapa ratus orang.

Majalah Tempo (1978) memberitakan bahwa tsunami yang menghantam Pantai Donggala, Teluk Mapaga, dan Pulau Tuguan setinggi 8-10 meter melabrak pantai sampai sejauh 300 meter. Akibatnya 800 rumah hancur dan 200 orang meninggal dunia.

“Pada bulan Agustus 1968 sebuah kampung bernama Mapaga, terletak di pantai Barat Kabupaten Donggala lenyap ke dalam laut sebagai akibat gempa bumi yang cukup kuat,” tulis Masyhuddin.

Gempa kedua terjadi pada 14 Agustus 1968 bermagnitudo 7,4 dengan pusat gempa di Laut Sulawesi. Kantor berita Antara melaporkan gempa ini menghasilkan gelombang tsunami besar yang mengakibatkan Pulau Tuguan tenggelam sepenuhnya dan menghilang.

Petugas polisi yang dikirim dari mercusuar Mangalihat di Pulau Borneo tidak menemukan jejak Tuguan atau penduduknya. Gempa bumi juga mengakibatkan gunung berapi di Pulau Sangihe dan Talaud di ujung utara Pulau Sulawesi mulai bergemuruh dan mengeluarkan asap.

Tiga minggu kemudian, gempa kecil masih terus terjadi dan aktivitas gunung berapi di Talaud dan Sangihe mengancam 200.000 orang yang tinggal di pulau itu. Pihak berwenang pun meminta kapal untuk membantu evakuasi warga.

Loading...
Loading...