Kamis, 27 September 2018 08:35 WITA

Ini Pemicu Penurunan Produksi Biji Kakao di Sulsel

Penulis: Sartika Marzuki
Editor: Aswad Syam
Ini Pemicu Penurunan Produksi Biji Kakao di Sulsel
HUP Manajer PT Mars Symbioscience Indonesia Wilayah Kabupaten Luwu, Muhajir (baju merah), berbincang dengan seorang petani kakao di Luwu.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Produksi bahan baku biji kakao di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya Kabupaten Luwu, terus mengalami penurunan beberapa tahun terakhir.

HUP Manajer PT Mars Symbioscience Indonesia Wilayah Kabupaten Luwu, Muhajir mengatakan, kondisi ini terjadi akibat kurang produktifnya hasil perkebunan para petani kakao di wilayah tersebut.

Faktor utama pemicu penurunan bahan baku biji kakao, karena sebagian besar pohon di perkebunan, sudah berumur tua. Sementara, masih banyak petani yang belum mengetahui perihal revitalisasi kakao.

"Usia maksimal pohon kakao itu, hanya bisa 20 tahun. Lewat dari itu, harus diremajakan. Karena jika tidak, tentu hasil panennya akan berkurang, dan biji yang dihasilkan kurang berkualitas," ungkap Muhajir pada Rakyatku.com, Kamis (27/9/2018).

Selain itu, jumlah petani kakao di Sulsel juga terus berkurang. Generasi pelanjut sangat minim, yang bertahan hanya petani-petani berusia tua.

Loading...

Masalah lain, lanjut Muhajir, yakni persoalahan serangan hama. Akibatnya, hasil panen buah kakao menjadi sedikit dan tidak bagus.

"Kesulitan terberat yang dirasakan petani, hingga mendorong mereka tak ingin lagi menanam kakao, adalah persoalan ketersediaan pupuk," ujarnya.

Pasalnya, saat ini pemerintah belum menyiapkan pupuk bersubsidi bagi petani kakao. Sementara harga pupuk non subsidi harganya cukup mahal, sekira Rp500 ribu.

Olehnya, petani kakao terpaksa menggunakan phonska, yakni pupuk subsidi yang sebenarnya diperuntukan bagi petani padi.

Tags
Loading...
Loading...