Rabu, 26 September 2018 15:03 WITA

OPINI

Pendidikan Keluarga dan Ancaman Narkoba

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Pendidikan Keluarga dan Ancaman Narkoba
Andi Muhammad Asbar.

Ada kecenderungan saat ini keluarga tidak lagi menjadi lingkungan produksi budi pekerti atau akhlak bagi anak (generasi) mereka. Bahkan, kedua orang tua dan anggota keluarga lainnya, terjebak pada produksi materi untuk memenuhi kebutuhan operasional rumah tangga dan biaya pendidikan anak-anak mereka.
Kekhawatiran di atas, menjadi suatu problematika baru bagi keluarga masa kini di era pasca modernisme.

Ada hasil riset menarik yang ditemukan oleh Kamrani Buseri, dkk (2015) bahwa orang tua hanya merasa berkewajiban mengirim uang untuk anaknya setiap bulan atau kapanpun ketika anaknya membutuhkan, tanpa memberikan ketentuan alokasi pengeluaran. Bagi orang tua, yang terpenting, anaknya dapat membayar sewa kos, makan, transport, dan memiliki pulsa untuk komunikasi. Pengeluaran untuk perkuliahan, bagi orang tua, adalah membayar SPP setiap semester.

Ini indikasi bahwa orang tua sudah mulai melupakan kewajiban utamanya, yakni pendidikan moral dan etika bagi anak-anaknya. Kewajiban itu dieleminasi orang tua baik secara sadar maupun tidak. Tugas itu sepenuhnya diserahkan kepada sekolah/madrasah dan orang tua merasa hanya berkewajiban untuk pembiayaan pendidikan bagi anak-anaknya. Keluarga milenial khususnya di perkotaan, harus segera mungkin mengantisipasi dampak buruknya.

Dahulu orang tua sangat protektif dalam mengasuh anaknya. Misalnya, anak perempuannya harus berada di rumah sebelum magrib dan anak lelaki mereka bina untuk mandiri, santun dan beretika. Dapat dikatakan mereka sangat preventif dari hal-hal yang dapat mendatangkan petaka dalam keluarga. Bukan itu saja, dahulu tolok ukur prioritas mencari menantu lelaki ditentukan oleh sikap santun dan etikanya. Sedangkan, urusan pekerjaan mereka dianggap bisa mandiri.

Saat ini pelajar yang dijumpai merokok mungkin sudah tergolong pelanggaran ringan dan tidak lagi dianggap sebagai ancaman, tetapi jika pelajar sudah pesta narkoba maka itu sudah menjadi ancaman generasi. Fenomena pesta sabu di kalangan pelajar pada tingkatan dasar, menengah bahkan mahasiswa. Sudah menjadi bahaya laten yang patut diwaspadai bagi semua keluarga. Bahkan, oknum pelajar sendiri sudah terlibat dalam peredaran narkoba. 

Ancaman narkoba yang menyentuh pelajar, menjadi tugas baru bagi orang tua saat ini. Ini perlu menjadi perhatian besar bagi semua keluarga. Patut dicermati, keluarga cenderung menciptakan jarak dari segi perhatian psikologis anaknya. Orang tua terkadang tidak mampu menjadi penawar atas problem yang dihadapi oleh anaknya sendiri. Sehingga anak berpotensi melakukan tindakan negatif dan fatal untuk menyelesaikan masalahnya. 

Antisipasi keluarga terhadap ancaman narkoba, dapat dilakukan dengan cara. Pertama, orang tua sebagai tempat rujukan anak. Rujukan moral atau teladan, di mana keluarga harus menjadi contoh yang baik dengan menjadikan agama sebagai pedoman. Sebagai rujukan informasi, orang tua harus menjadi tempat curhat anak atas problem yang dihadapi anak di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. 

Orang tua tidak boleh menciptakan jarak dengan anak, dampaknya anak cenderung abai dengan orang tuanya dan anak boleh jadi senang dengan orang-orang diluar daripada orang tuanya sendiri. Kedua, orang tua sebagai pembimbing menuju masa depan. Hal ini menjadi penting, agar orang tua dapat mengarahkan potensi dan bakat yang dimiliki anaknya untuk berdaya saing.

Dalam Islam pendidik pertama dan utama adalah orang tua sendiri. Mereka berdua yang bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya, karena sukses tidaknya anak sangat tergantung kepada pengasuhan, perhatian, dan pendidikannya. Kesuksesan anak kandung merupakan cermin atas kesuksesan orang tuanya. 

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama, tempat anak didik pertama-tama menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarga lainnya. Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda, karena pada usia ini anak akan lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikannya, yakni melalui orang tuanya dan anggota keluarga yang lain.

Dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah soko guru pendidikan bagi anak, untuk menghadirkan generasi pelanjut di masa depan bukan generasi narkoba atau generasi penghancur.

Penulis: Andi Muhammad Asbar (Dosen STAI Al-Gazali Bulukumba).