Rabu, 26 September 2018 09:13 WITA

OPINI

Emaknya Survei dan Celotehan Emak-Emak

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Emaknya Survei dan Celotehan Emak-Emak
M. Aliem, S.Si.

Emak-emak lagi ngetop di seantero negeri. Suaranya diperebutkan oleh para konstestan pemilu. Mungkin karena sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan di dalam sebuah rumah tangga. Bisikan emak-emak akan didengar oleh suami dan anak-anaknya. Tak berlebihan jika kedua kubu bakal calon presiden membentuk tim khusus untuk menjaring suara emak-emak.

Di Badan Pusat Statistik (BPS), ada survei yang boleh dikata menjadi emaknya survei. Mother of survey. Diberi nama survei sosial ekonomi nasional atau susenas. Tidak berlebihan jika survei ini diberi julukan begitu. Lo, kok bisa?

Dari survei inilah lahir banyak angka indikator untuk memantau keberhasilan pembangunan pemerintah. Indikator pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau SDGs. Dari susenas dihasilkan angka kemiskinan dua kali dalam setahun. Bahkan sebelum penghematan anggaran, susenas dilaksanakan empat kali setahun. Sampel susenas Maret sebanyak 300 ribu rumah tangga dan 75 ribu rumah tangga pada periode September.

Selain angka kemiskinan agregat, dari susenas diperoleh angka rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah. Dua indokator ini adalah indikator Pendidikan yang digunakan dalam penyusunan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Biasa dengar kan? Itu loh angka yang sering dikeluarkan dari mulut politisi di panggung debat pilkada dan pilpres. Sudah ingat? Ok, kita lanjut lagi ke emaknya survey, susenas.

Dari susenas juga didapatkan besaran angka konsumsi masyarakat. Pertumbuhan konsumsi ini dapat digunakan sebagai kontrol terhadap daya beli. Komoditi apa saja yang sangat memengaruhi pengeluaran penduduk miskin. Selain itu, ada angka fertilitas, informasi tentang kondisi perumahan, kesehatan, keberhasilan program jaring pengaman sosial, dan masih banyak lagi.

Melihat banyaknya angka indikator yang dihasilkan, kebayang kan seberapa tebal dokumen yang digunakan dalam survei ini. Setidaknya, terdapat lebih dari 400-an pertanyaan, Sob. Banyak kan? Kalau responden terpilih itu lebih dari empat orang, rahang para petugas survei bisa keram. Rata-rata waktu wawancara adalah dua jam. Kalau sambil duduk bersila, kaki juga ikutan kesemutan. 

Jangan heran jika suatu saat menjadi salah satu responden susenas. Jumlah konsumsi beras akan ditanyakan dalam periode seminggu terakhir pada saat pendataan. Ikan apa saja dan berapa banyak yang dikonsumsi dalam seminggu terakhir. Berapa gram micin, Garam, Buah-buahan, Tahu dan tempe, Dan semua komoditas makanan yang dikonsumsi seminggu terakhir.

Selain itu, pengeluaran bukan makanan juga ditanyakan. Seperti sewa rumah dalam sebulan, pengeluaran bahan bakar, perlengkapan mandi, pajak bumi dan bangunan, cicilan, dan masih banyak lagi. 

Syukur-syukur kalau respondennya baik hati. Menawarkan segelas air minum. Secangkir teh atau kopi. Apalagi jika lengkap dengan cemilannya. Sekalian deh, sama sepiring nasi dan sepotong-dua potong lauk. Ditambah makanan pencuci mulut juga boleh. Hei, ini mau nyacah atau numpang makan?

Karena sebagian informasi yang dibutuhkan adalah tentang rahasia dapur, maka pemberi jawaban yang paling sesuai adalah emak-emak. Dari pengalaman saya mendata, memang emak-emak inilah yang menjadi pemberi data. Celotehannya menentukan angka kemiskinan Indonesia itu berapa di setiap periode pengumpulan data. Keren emang nih emak-emak Indonesia.

Tak jarang mereka curcol alias curhat kecolongan. Misal nih, sambil ngomel kelakuan suaminya yang lebih memilih beli rokok dibanding lauk-pauk. Atau bahkan dibandingkan biaya sekolah anaknya. Asap rokok para suami lebih penting dibanding asap dapur yang mengepul, begitu katanya.

Data BPS tentang konsumsi rokok memang membenarkan hal tersebut. Rokok menjadi komoditas nomor dua yang paling berpengaruh terhadap garis kemiskinan setelah beras.  Seandainya konsumsi rokok dikurangi, kebutuhan lain yang lebih penting dapat terbeli. Misalnya dengan mengalihkan dana pembeli rokok untuk membeli lauk pauk, makanan yang lebih bergizi. Atau digunakan untuk membeli buku dan biaya Pendidikan. Tentu lebih bermanfaat.

Berdasarkan susenas Maret 2018, rokok kretek filter berada di peringkat kedua sebagai komoditi  yang paling berpengaruh terhadap garis kemiskinan. Kontribusinya sebesar 11,07 persen di daerah perkotaan dan 10,21 persen di daerah perdesaan. Posisinya masih berada di bawah beras dengan kontribusi sebesar 20,95 persen di perkotaan dan 26,79 persen di perdesaan.

Secara nasional, rata-rata pengeluaran per orang sebulan untuk rokok mencapai Rp64.384,-. Nilai pengeluaran yang cukup besar. Angka ini lebih besar dibanding rata-rata pengeluaran untuk beras yang hanya sebesar Rp 59.111,- per orang per bulan. Sedangkan pada komoditas bukan makanan, perumahan dan fasilitas rumah tangga menjadi pengeluaran yang tertinggi yaitu sebesar Rp 279.916,- per orang dalam sebulan.

Bagaimana komoditas lainnya seperti tahu dan tempe? Seminggu terakhir ini, tempe menjadi buah bibir karena potongannya semakin kecil. Dolar penyebabnya. Jika dilihat pengaruh tempe terhadap garis kemiskinan pada Maret 2018 tidak terlalu signifikan. Sumbangan tempe terhadap garis kemiskinan sebesar 1,74 persen di daerah perkotaan dan 1,63 persen di daerah perdesaan. 

Data susenas September 2017, rata-rata pengeluaran untuk komoditas kacang-kacangan, termasuk tahu dan tempe di dalamnya hanya sebesar Rp 10.263,- per orang dalam sebulan. Dapat dilihat jika konsumsi rokok masih enam kali lipat lebih tinggi dibanding porsi pengeluaran untuk tempe.

Masih banyak indikator lain yang dapat dilihat dari hasil susenas. Makanya tidak salah jika survei ini dijuluki mamaknya survei, kan? Apalagi hampir seluruh respondennya adalah emak-emak. Oleh karena itu, susenas sangat penting bagi perencanaan pembangunan bangsa. 

Pada dasarnya, susenas mengukur kemiskinan berdasarkan pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran makanan dan bukan makanan. Untuk komoditas makanan akan dikonversi ke dalam kilo kalori, lebih tepatnya 2100 kilo kalori. Mengikuti standar minimal FAO. Metodologi susenas sudah berstandar internasional.

Demi menghasilkan data tepercaya, responden memegang peranan yang sangat penting. Responden jujur dalam memberikan data adalah harapan BPS. Jangan lagi terjadi penolakan terhadap survei ini. Berikanlah informasi yang benar kepada petugas pengumpul data. Jawaban Anda menentukan berhasil-tidaknya pembangunan negeri ini. 

Penulis: M. Aliem, S.Si (Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan)