Sabtu, 15 September 2018 19:22 WITA

Akmal Pasluddin Kritik Kebijakan Impor Gula Pemerintah

Penulis: Fathul Khair
Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Akmal Pasluddin Kritik Kebijakan Impor Gula Pemerintah
Akmal Pasluddin (Foto: Instagram)

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Anggota DPR RI Komisi IV dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan II, Andi Akmal Pasluddin menyayangkan kebijakan pemerintah yang melakukan impor gula. Ia menyesali tindakan pemerintah yang seharusnya menyelesaikan masalah yang ada, tetapi malah membuat masalah baru bagi rakyat banyak.

Akmal mengatakan, bahwa meskipun pemerintah memberi izin impor gula sebanyak 1,1 juta ton kepada perusahaan pemerintah seperti PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, XI, dan XII, serta PT Gendhis Multi Manis (GMM), namun tindakan ini semakin sulit dipahami secara nalar yang baik.

“Sudah sangat wajar bila DPR dan berbagai masyarakat mempertanyakan, kenapa pemerintah selalu berpolemik dengan impor produk pangan ini, terutama menjelang pemilu. Sulit rasanya masyarakat ini bersimpati atas kebijakan pemerintah berkaitan dengan impor pangan yang senyatanya telah membelenggu daya beli masyarakat banyak," kritik Akmal.

Ketua Kelompok komisi IV dari FPKS ini menyatakan, pemerintah saat ini selalu membuat "lagu lama" berkaitan dengan impor gula. Dari tahun ke tahun, tidak pernah berhenti beralasan bahwa impor gula dilakukan atas dasar kualitas gula nasional belum bisa memenuhi kebutuhan gula industri. "Lagu" berikutnya, karena stok dalam negeri tidak memenuhi kebutuhan nasional sehingga perlu dilakukan impor gula.

Pengurus PKS ketua Pembina Wilayah Sulsel ini membandingkan pada kasus beras, bahwa Menteri pertanian berulang-ulang menyatakan bahwa stok beras nasional cukup. Namun kementerian perdagangan yang berkoordinasi dengan berbagai kementerian kepemimpinan Jokowi memutuskan impor beras. 

Loading...

“Saya jadi mencurigai, bahwa sesungguhnya gula kita ini tidak sebesar itu (1,1 juta ton) untuk impor. Karena saat ini Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistis (Bulog) mengklaim institusinya hingga September 2018 ini mampu menyerap gula milik petani lebih dari 100.000 ton”, curiga Akmal.

Akmal menjelaskan bahwa saat ini Bulog memiliki tugas untuk menyerap dan membeli gula milik petani dengan harga Rp 9.700 per kilogram (kg) sebanyak 600.000 ton hingga April 2019 mendatang. Dengan klaim Bulog  bahwa  gudangnya memiliki 140.000 ton gula, maka ketersediaan gula yang ada di gudang Bulog saat ini mencapai lebih dari 270.000 ton.

“Saya berharap pemerintah tidak usah lagi menambah kesengsaraan rakyat terutama petani kita dengan dihadapkan produk impor pangan. Sudah cukup derita ini perlu diakhiri. Semoga pemerintah mendengar dan mampu memperbaiki kinerjanya”, pungkas Andi Akmal Pasluddin.

Loading...
Loading...