Kamis, 20 September 2018 14:20 WITA

Natalius Pigai: Saya Netral di Pilpres 2019

Editor: Mulyadi Abdillah
Natalius Pigai: Saya Netral di Pilpres 2019
Natalius Pigai

RAKYATKU.COM -  Mantan komisioner Komnas HAM Natalius Pigai menegaskan dirinya netral di Pilpres 2019. Natalius tidak terlibat urusan tim sukses (timses) pasangan calon.

Penegasan ini menanggapi berita sebelumnya yang dikutip dari detikcom berjudul; Ini Alasan Natalius Pigai Batal Masuk Timses Prabowo-Sandi. Dalam berita itu, politikus PAN Yandri Susanto menyatakan Natalius Pigai batal masuk Tim Sukses. 

Sebagai aktivis yang berusaha mempertahankan independensi dan kredibilitasnya, Natalius Pigai merasa dirugikan oleh pemberitaan itu tanpa mendapat konfirmasi terlebih dahulu. 

"Padahal kata 'batal' berkonotasi negatif, seakan-akan saya masuk tim sukses kemudian dibatalkan atau saya batalkan. Padahal tidak ada batal karena tidak pernah ada pertemuan dan pembicaraan," kata Natalius Pigai dalam keterangan tertulisnya dilansir dari detikcom, Kamis (20/9/2018). 

Natalius Pigai lalu menjelaskan alasan dirinya harus memilih netral di Pilpres 2019. "Tentu saja dengan pertimbangan yang cukup bahwa oposisi yang berkualitas jika berada di posisi netral sebagai artikulator soal-soal substansial dan artifisial kaum marginal,". 

"Saya sudah 4 tahun, detik demi detik, hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun mengawasi, mengontrol dan mengkritisi kinerja pemerintah Jokowi. Saya berkomitmen tetap menjalankan kritik untuk mengisi ruang kosong yang tidak diisi oleh negara, menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan rakyat, dan juga sebagai artikulator kepentingan rakyat dan kaum marginal," urainya. 

"Kritik dan oposisi yang baik, terkontrol dan berkualitas jika kita lakukan secara independen, objektif, imparsial akan terus saya lakukan sampai masa jabatan pemerintah ini berakhir Oktober 2019". 

"Setelah 2019, siapa pun yang terpilih menjadi presiden sebagai aktivis kemanusian di Papua berkeyakinan bahwa rakyat Papua tetap menjadi marginal, kaum yang disiksa, dianiaya, dibunuh dan berada seakan-akan orang-orang terjajah sebagaimana juga dilakukan pemerintahan Jokowi saat ini". 

"Bagi kami bangsa Papua, baik Jokowi dan Prabowo sama saja, tidak ada pemimpin baik di Republik ini, meskipun tahun 1996 Pak Prabowo pernah lakukan sejarah besar dengan memberi dana 1% persen penghasilan Freeport pada rakyat asli Papua dan dinikmati selama 22 tahun hingga saat ini". 

"Secara pribadi, siapa saja kagum tentang kualitas dan kompetensi saya untuk memimpin negara ini, tetapi maaf saya bukan orang ambisius, dan telah buktikan dengan menolak berbagai tawaran jabatan oleh pemerintah Jokowi". 

"Akhirnya pemerintahan Jokowi atau pemerintah siapa saja buang saya ke tempat tidak terhormat pun, mutiara Papua tetaplah mutiara," demikian Natalius Pigai.