Kamis, 20 September 2018 05:30 WITA

Hukum Melihat Wajah Wanita Non Mahram Menurut Para Imam Mazhab

Editor: Abu Asyraf
Hukum Melihat Wajah Wanita Non Mahram Menurut Para Imam Mazhab
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Ada ayat dalam Alquran yang memerintahkan laki-laki menahan pandangannya, terutama kepada wanita non mahram. Bagaimana pandangan para imam mahzab terhadap ayat ini?

Perintah menahan pandangan itu bersumber dari ayat Alquran Surat An Nur ayat 30, "Katakan kepada orang-orang mukmin bahwa wajiblah atas mereka untuk menahan pandangannya."

Al-Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkamil Quran menyebutkan, "Allah SWT tidak menyebutkan apa yang tidak boleh dilihat, namun sudah diketahui secara adat bahwa maksudnya adalah apa-apa yang diharamkan di luar yang dihalalkan."

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Said bin Abil Hasan berkata kepada Al-Hasan bahwa wanita non mahram telah memperlihatkan dada dan kepala mereka. Beliau berkata, "Palingkan penglihatanmu, karena Allah SWT berfirman, 'Katakan kepada orang-orang beriman wajiblah atas mereka untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluan mereka. Qatadah berkata (memalingkan pandangan) dari yang tidak halal." (Al-Imam Al-Qurthubi, Al-Jami li Ahkam Al-Quran, jilid 12 hal. 222)

Ayat ini mewajibkan laki-laki menahan atau memalingkan pandangan dari apa-apa yang diharamkan untuk dipandang. Tetapi sama sekali tidak menyebutkan apa saja yang termasuk haram untuk dipandang. Hanya saja kita tahu bahwa yang haram dipandang itu adalah aurat, baik aurat wanita maupun aurat laki-laki. 

Masalahnya, apakah wajah wanita itu termasuk aurat yang haram dilihat, ataukah bukan termasuk aurat? Berikut pandangan empat mazhab seperti diuraikan Ustaz Ahmad Sarwat, Lc, MA sebagaimana dikutip dari Rumahfikih.com:

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Jumhur ulama dari empat mazhab sepakat bahwa wajah seorang wanita bukan termasuk aurat. Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan tidak dibenarkan melihat wanita yang bukan mahram (ajnabi) yang merdeka, kecuali wajah dan tapak tangan.

Bahkan Imam Abu Hanifah sendiri mengatakan yang termasuk bukan aurat adalah wajah, tapak tangan dan kaki, karena kami adalah sebuah kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan.

Al-Kamal Ibnul Humam (w. 587 H) salah satu ulama rujukan dalam mazhab Al-Hanabilah menyebutkan di dalam kitabnya, Badai' Ash-Shanai', "Tidak mengapa melihat wajah wanita dan kedua tangannya."

Namun ada pendapat dalam mazhab Al-Hanafiyah yang membedakan apabila kasusnya terjadi pada wanita muda, lajang, dan cantik. "Dan wanita muda dilarang membuka wajahnya di depan laki-laki, bukan karena wajah itu aurat melainkan karena takut terjadi fitnah."

Buat wanita seperti itu menurut pendapat ini memang harus menutup wajahnya, bukan karena wajahnya merupakan aurat, tetapi agar tidak terjadi fitnah di tengah masyarakat.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab Al-Malikiyah sebagaimana disebutkan dalam kitab `Asy-Syarhu As-Shaghir` atau sering disebut kitab Aqrabul Masalik ilaa Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri menyebutkan bahwa, "Batas aurat waita merdeka dengan laki-laki ajnabi (yang bukan mahram) adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Keduanya itu bukan termasuk aurat."

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 594 H) salah satu ulama rujukan dalam mazhab Al-Malikiyah di dalam kitabnya Mawahibul Jalil menyebutkan, "Laki-laki tidak boleh memandang wajah wanita dengan nafsu. Tapi kalau tidak diiringi dengan nafsu tidak mengapa untuk dipandang, sebagaimana disebutkan oleh Al-Qalsyani."

Bahkan dalam pandangan mazhab Al-Malikiyah, tindakan menutup wajah bagi wanita hukumnya dimakruhkan. Karena hal itu dianggap sebagai al-ghululuw fi ad-diin, yaitu berlebih-lebihan dalam beragama.

3. Mazhab Asy-Syafi`iyyah

Mazhab Asy-Syafi`iyyah sebagaimana disebutkan oleh As-Syairazi dalam kitabnya `al-Muhazzab`, mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya adalah aurat kecuali wajah dan tapak tangan.

Al-Imam Al-Mawardi (w. 450 H) salah satu ulama besar dalam mazhab Asy-Syafi'iyah menyebutkan bahwa wajah wanita bukan aurat. Hal itu disebutkan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir, "Telah lewat pembicaraan sebelumnya bahwa wajah wanita dan kedua telapak tangannya bukan aurat."

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga salah satu ulama besar dalam mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, mengatakan, "Dibolehkan melihat wajah wanita dalam bermuamalah seperti jual-beli dan lainnya bila ada keperluan untuk mengenalinya."

4. Mazhab Al-Hanabilah

Dalam mazhab Al-Hanabilah kita dapati Ibnu Qudamah berkata bahwa mazhab tidak berbeda pendapat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan tapak tangannya di dalam shalat.

Kalau melihat larangan pada ayat di atas, sebenarnya yang dilarang untuk dilihat adalah aurat wanita. Sedangkan wajah wanita pada dasarnya bukan aurat.

Kalaupun ada ulama yang melarang laki-laki melihat wajah wanita, bukan karena wajahnya itu aurat, melainkan karena takut terjadi fitnah. Dan larangan ini hanya berlaku pada wanita yang masih muda dan cantik, tidak berlaku pada wanita tua atau tidak cantik.


 

Berita Terkait