Minggu, 16 September 2018 13:36 WITA

Kisah La Paiva, Pelacur Jalanan yang Naik Kasta 

Editor: Eka Nugraha
Kisah La Paiva, Pelacur Jalanan yang Naik Kasta 
De La Paiva hotels di Paris, salah satu saksi bisu kehadiran La Paiva. Sumber: Tripadvisor.

RAKYATKU.COM --- Terlahir sebagai anak bangsa Yahudi, Esther Pauline Lachman memiliki masa depan yang suram. Wanita ini tak makan bangku sekolah. Nyaris buta huruf, dan terbelit kemiskinan. 

Dia menikah dengan seorang pria miskin pada usia 17 tahun. Dari pernikahannya itu, dia memiliki seorang anak laki-laki. Tetapi karena kemiskinannya, dia nekat meninggalkan Rusiam. 

Dia menuju sejumlah negara. Ke Berlin, Wina, Istanbul, dan akhirnya ke Paris. Suaminya ditinggalkan, anaknya ditelantarkan. Dia pergi tanpa bekal apapun. Hingga akhirnya, dia terjebak dalam dunia prostitusi. Di Paris, dia melacurkan diri di sebuah losmen murah. Dia memakai nama Therese. 

Hingga akhirnya, dia punya keinginan besar. Mencari seorang suami kaya. Dia tetap melacurkan dirinya. Tetapi sudah naik kelas. Tempatnya eksklusif, bergengsi. Salah satu sasarannya adalah Kota Ems, Rusia. 

Seperti yang dilansir BBC, seorang seniman musik terpedaya pesona Esther. Pemusik itu diketahui bernama Henri Herz. Seniman kaya ini lalu memberinya uang dan perhiasan. Pergaulan Esther semakin terbuka. Dia banyak mengenal kalangan seniman besar pada eranya. 

Hubungan keluarga Esther dengan Henri Herz akhirnya kandas setelah saat Herz pulang ke Amerika Serikat. Hartanya lalu digugat. Ia terbukti bukan istri sah, dan kalah. 

Petualangan Esther tidak selesai. Dia lalu ke London. Tidak begitu lama di London, dia berkenalan dengan seorang aristokrat kaya, Albino Francesco Arauji de Paiva. Albino terpikat, bangsawan Portugis ini lalu menikahi Esther. Dari pernikahan ini, Esther kemudian mendapat julukan La Paiva. 

La Paiva akhirnya mendapatkan semua yang diinginkannya. Uang, status, dan nama besar sudah dimilikinya. Hingga akhirnya, 1848 revolusi kembali pecah di Prancis. Kaisar Napoleon III pun diangkat. Kondisi sosial berubah. Industri kian marak. 

Suaminya, Albino dipaksa pulang kembali ke Lisbon. Konon, di sana dia tewas bunuh diri karena sakit hati. Sedangkan La Paiva kembali ke dunia pelacuran. Berbekal status yang mentereng, dia menggaet pelanggan-pelanggan kaya. Uang datang dengan gampang. Dia punya banyak barang mewah. La Paiva kemudian menjadi legenda. 

Sulap Istana Jadi Hotel 

COUNT Henckel von Donnersmarck terpesona dengan La Paiva. Meski usianya jauh lebih muda, pria terkaya di Eropa ini nekat menikahi La Paiva. 

Donnersmarck menghadiahi La Paiva dengan bangunan bak istana paling mewah di Paris. Istana dari abad ke-16 itu diubah menjadi Hôtel de la Païva, mansion. Hotel ini, dibangun untuk memuaskan nafsu semua orang. Pesta paling tak bermoral pernah digelar di sana. 

The Telegraph pada Maret 2010 menggambarkan bagaimana kemewahan istana itu. Tangganya dilapisi emas. Ada juga lantai yang menggunakan Onyx dari Aljazair. Di kamar mandi, ada bak mewah yang diisi susu atau sampanye. Susu dan sampanye ini hanya digunakan untuk berendam. 

La Paiva mengawasi ketat tamu-tamunya. Dia kerap melarang perempuan lain masuk. Sehingga ia bisa menguasai tamu-tamu untuk dirinya sendiri. 

Disangka Mata-mata 

Perang Prancis-Rusia yang pecah di 1871 membuat La Paiva dihindari banyak orang. Dia tidak lagi bebas menjajakan dirinya. Dia dihindari karena dituduh sebagai mata-mata Jerman. 

Prancis kalah dari Rusia kala itu. Tuduhan lalu disematkan kepada moral bangsa yang bobrok. Salah satu penyebabnya adalah prostitusi. Termasuk keberadaan La Paiva. Dalam kondisi tersudut, dia dan suaminya pindah ke Silesia, yang kini menjadi Polandia. 

La Paiva dikabarkan meninggal dunia pada 1884. Jenazah La Paiva dibalsem dengan cairan alkohol. Suami La Paiva akhirnya menikah lagi dengan perempuan lain. 

Sepeninggal La Paiva, Henckel von Donnersmarck mendapatkan keberuntungan. Dia mendapat gelar Furst oleh Kaisar Wilhelm pada 1901. Gelar ini adalah kasta tertinggi dalam kebangsawanan Jerman. La Paiva, meski sudah meninggal dia berhak dipanggil dengan sebutan "Putri".

Lalu bagaimana dengan nasib Hotel La Paiva? hotel itu tetap berdiri megah. Seperti dilansir Maison-deco, peninggalan itu masih bisa ditemukan di Champs Elysee.