Jumat, 14 September 2018 17:42 WITA

Mengatasi Problem Air di Watansoppeng

Editor: Mulyadi Abdillah
Mengatasi Problem Air di Watansoppeng
Nurmal Idrus

PROBLEM penyediaan air bersih di Kota Watansoppeng memang sudah menjadi masalah yang menahun. Kemampuan PDAM Soppeng dalam memenuhi kebutuhan warga yang  sesuai dengan prinsip Kualitas, Kontuinitas, Kuantitas dan Tekanan (K3T), masih jauh dari harapan. 

Kendala berupa debit air baku yang minim, pompa yang tak kuat mendistribusikan air, pipa yang sudah menua dan tingkat elevasi Kota Watansoppeng yang tergolong tinggi, menempatkan PDAM Soppeng berada pada posisi sulit. Sebagai orang yang telah bergelut dengan manajemen air minum dalam beberapa tahun ini, saya sangat memahami kesulitan mereka. 

Namun, kondisi itu tentu tak boleh membuat mereka menyerah. Sebab, kebutuhan air bersih bagi warga kota, tak bisa ditunda. Air bersih adalah kebutuhan dasar ummat manusia dan untuk itu selalu  ada cara kreatif yang bisa ditempuh demi mengatasi berbagai keterbatasan itu. 

Hal pertama menurut saya yang perlu dilakukan hari ini adalah memetakan masalah penyediaan air bersih di Kota Watansoppeng dan kemudian menuangkannya dalam bentuk proposal. Misalnya, berapa kebutuhan pipa, pompa dan bagaimana mengatasi problem elevasi kota. Proposal itu kemudian dibawa ke pusat dalam hal ini Kementerian PUPR.

Ini menjadi catatan pertama saya karena semua problem itu bisa diatasi jika ada pendanaan yang jelas. Pemkab Soppeng saya yakini tak akan mampu menutup besarnya anggaran penyediaan air bersih  dan meminta dana ke pusat adalah solusinya. 

Sambil berjuang mendapatkan dana pusat, Pemkab Soppeng perlu bersama dengan PDAM memikirkan solusi jangka pendek untuk mengatasi problem distribusi itu. Untuk hal ini, saya menyarankan dua tindakan. Pertama, untuk mengatasi tingkat elevasi, dilakukan dengan membangun lebih banyak reservoir air di seputaran kota.

Problem terbesar kita ada di distribusi selain air baku yang minim. Saya menyarankan pemkab berinvestasi dengan membangun reservoir lokal  berkapasitas sedang hingga 10.000 liter di beberapa sudut ketinggian kota.

Keberadaan reservoir akan meringankan kerja pompa PDAM pada instalasi pengolahan hingga lebih mudah didistribusikan ke pelanggan. Pompa PDAM di Soppeng terlalu jauh dari pipa distribusi dan dinas. Akibatnya air sulit sampai ke pelanggan. Sebaiknya, tugas pompa di IPA hanya mendorong air ke reservoir. Dari reservoir pompa lebih kecil yang mendorong air ke pelanggan. Reservoir juga akan berfungsi ganda sebagai penampung air  ketika musim hujan datang.

Kedua, untuk mengatasi minimnya pasokan air baku maka tentu memanfaatkan sumber air yang belum dioptimalkan di seputaran kota seperti di Lawo adalah solusi terbaik. Namun, PDAM Soppeng juga bisa menempuh strategi penyediaan air yang menyasar sumber sumur dalam dengan sistem bor. Menurut saya ada beberapa lokasi di tengah kota yang menyimpan cadangan air. Sumur-sumur itu memang berdebit kecil, tetapi kalau dibuat dengan titik lebih banyak tentu akan lebih membantu. 

Pemkab memegang posisi kunci dalam hal ini, karena PDAM tak punya duit untuk membangunnya. Pemkab harus mengintervensi karena air adalah tanggungjawab pemerintah. Tapi uang itu tak hilang karena menjadi penyertaan modal tambahan. 

PDAM Soppeng juga disarankan melakukan efisiensi ekstrem dengan memangkas seluruh biaya tak perlu. Untuk untung, Anda perlu memangkas banyak keperluan, menekan tingkat kehilangan air dan mendorong efektivitas penagihan.

Penulis: Nurmal Idrus

(Anggota Badan Pengawas PDAM Makassar)
(Memegang Sertifikat Nasional Tingkat Madya Pengelolaan Air Minum)???????