Jumat, 14 September 2018 09:55 WITA

Kubu Prabowo Usul Debat Pakai Bahasa Inggris, Timses Jokowi Bilang Begini

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Kubu Prabowo Usul Debat Pakai Bahasa Inggris, Timses Jokowi Bilang Begini
Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

RAKYATKU.COM - Kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin menanggapi usulan koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terkait perubahan format debat capres 2019 agar menggunkan bahasa Inggris.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Hasto Kristiyanto, mengatakan, rekam jejak (track record) ialah hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam mencari pemimpin.

"Ukuran seorang pemimpin adalah yang dilihat dari rekam jejaknya, moralitas pemimpin, tak punya tradisi buruk di masa lalu. Pemimpin memberi keteladanan. Pemimpin itu mencintai Indonesia Raya, mencintai rupiah bukan menimbun dolar, misalnya," kata Hasto.

Hasto mengatakan, konsistensi ucapan dan tindakan juga perlu ditimbang. Sebab, lanjutnya, seorang pemimpin harus tak cuma pandai bicara.

Hasto kembali menekankan soal rekam jejak calon pemimpin. Sekjen PDIP ini tampilan bicara yang baik tak guna jika punya rekam jejak buruk. 

"Buat apa seorang pemimpin yang tampilan berbicaranya baik tapi punya tradisi kekerasan masa lalu? Buat apa punya pemimpin kelihatan baik dalam ucapan tapi punya tradisi untuk mendapatkan kursi pencalonannya dengan membayar partai lain atau politik mahar? Itu kan juga dilihat," ungkap Hasto.

Dengan melihat track record tersebut, menurutnya, dapat diketahui moralitas calon pemimpin. Meski demikian, Hasto mengatakan kubu Jokowi-Ma'ruf akan mengikuti mekanisme yang akan diatur KPU.

"Jadi moralitas bagi pemimpin adalah satunya kata dan perbuatan. Kita ingin menyampaikan kontestasi itu dari track record-nya, dari gagasan-gagasannya. Jadi kami akan ikuti tahapan KPU, kami akan taati," bebernya, dikutib Detikcom.

Sebelumnya diberitakan, Ketua DPP PAN, Yandri Susanto berencana mengusulkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar menerapkan debat kandidat capres-cawapres menggunakan bahasa Inggris. 

Menurutnya, perlu ada salah satu tahapan debat kandidat dengan menerapkan model tersebut. "Karena presiden bergaul di dunia internasional supaya tidak ada miskomunikasi dan salah tafsir dari lawan bicara," ungkap Yandri.

Yandri sepakat presiden wajib menggunakan bahasa Indonesia saat berpidato di dalam negeri. Namun, presiden pun harus mampu berkomunikasi dengan baik di level internasional. Terutama ketika ada tamu dari negara lain.

"Ya memang penting juga calon presiden matang dalam menguasai bahasa selain dari Bahasa Indonesia itu," tambahnya.