Jumat, 14 September 2018 09:39 WITA

Fakta Mengejutkan Pembunuhan Janda Cantik di Bandung

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Fakta Mengejutkan Pembunuhan Janda Cantik di Bandung
Ela Nurhayati. (ist)

RAKYATKU.COM - Seorang karyawati bank, Ela Nurhayati (42), ditemukan tewas di rumahnya, di Kampung Pengragajian, Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada Selasa (11/9/2018) lalu.

Janda cantik itu ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya. Korban pertama kali ditemukan tetangganya, Deni setelah melihat putra almarhumah, MA, berteriak-teriak.

Saat Deni masuk ke dalam rumah, dia melihat karyawati BUMN yang sudah berpisah dengan suaminya itu, tewas bersimbah darah dalam posisi tertelungkup di ruang tamu rumahnya. Diduga kuat, wanita yang sudah berpisah dengan suaminya ini dibunuh.

1. Dibunuh dengan pisau dapur.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Trunoyudo menuturkan, dari hasil penyelidikan polisi menemukan barang bukti berupa sebuah pisau yang diduga digunakan oleh pelaku untuk membunuh Ela.

Saat ditemukan, pisau dapur bergagang merah tersebut terletak tak jauh dari tubuh korban yang berlumuran darah. 

Trunoyudo menuturkan, indikasi penggunaan pisau dapur tersebut akan diselidiki lebih lanjut, apakah ada kesesuaian bahwa alat tersebut yang digunakan pelaku untuk membunuh Ela atau tidak.

2. Tewas dengan 28 luka tusukan

Berdasarkan hasil olah TKP yang dilakukan polisi, ditemukan adanya 23 luka tusuk di beberapa bagian tubuh korban. Namun, kata Kasatreskrim Polres Cimahi, Niko N. Adiputra, dari hasil autopsi yang dilakukan atas jenazah ternyata diketahui terdapat 28 luka tusuk. Luka tusuk tersebut hampir seluruhnya mengenai bagian vital.

"Rata-rata seluruhnya di bagian organ vital, ya. Seperti di mata sebelah kanan tapi di pundak ke kiri dan ada bagian yang ke dada kiri itu yang mengarah ke jantung," kata Niko.

3. Ela rewas saat cuti kerja

Ela dikenal ramah di lingkungan kantor tempat ia bekerja. Menurut salah satu rekan kerja Ela, sehari sebelum ditemukan tewas, Ela tengah mengambil cuti kerja.

"Dia mah deket sama siapa aja. Orangnya suka pengen barengan terus. (sehari sebelum tewas) Dia itu lagi cuti," kata rekan kerja Ela yang enggan disebutkan namanya kepada kumparan.

4.  Saat kejadian Ela sedang dengan anaknya

Saat insiden pembunuhan tersebut terjadi, Ela tengah bersama dengan anaknya yang masih berusia 15 tahun. Menurut informasi yang dihimpun kumparan, Ela memang selalu menghabiskan waktu libur bersama dengan anak satu-satunya itu. 

Tetangga mengetahui kondisi Ela pun berawal dari melihat sang anak yang menangis di teras rumah sambil memegang ponsel dan pakaian yang berlumur darah. Nahas, saat ditemukan Ela sudah tak bernyawa.

Karena Ela hanya berada berdua dengan anaknya, polisi menyebut bahwa anak Ela merupakan saksi kunci dari insiden pembunuhan tersebut. Namun, anak Ela merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) sehingga untuk menggali keterangan dari anak tersebut, polisi melakukan perlakuan khusus dengan meminta pendampingan dari ahli. 

5. Anak Ella Berkebutuhan Khusus

MA (16) ada bersama korban ketika kejadian berlangsung. Dia bersekolah di SLB yang terletak di Kota Cimahi.

"(Anak korban) itu butuh perlakuan yang khusus sehingga kami akan lakukan untuk agenda pemeriksaan kejiwaan," kata Niko. Hingga kini polisi masih memeriksa anak korban.

6. Anak Ella Jadi Saksi Kunci

MA (16), putra Ella yang berkebutuhan khusus menjadi saksi kunci dalam kasus ini. Namun dia didampingi seorang psikolog.

"Untuk anak kita masih minta pendampingan psikolog," ujar Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko.

Menurut Truno, pendampingan ini lantaran MA masih di bawah umur. Selain itu, anak Ella harus ada pendampingan khusus selama proses pemeriksaan. "Karena ABK, jadi perlu pendampingan," katanya.

Truno menjelaskan, anak tersebut merupakan saksi kunci dalam kematian karyawati sebuah bank di Kota Bandung ini. Sebab berdasarkan kronologi kejadian, Ella ditemukan tewas oleh tetangga yang terlebih dahulu melihat anak Ella menangis berlumuran darah.

"Kalau dari kronologi, ada tetangga namanya Deni melihat anak korban menangis keluar, kemudian berlumuran darah. Selanjutnya dia masuk ke rumah dan melihat korban," tutur Truno.