Kamis, 13 September 2018 08:00 WITA

Menghapus Dosa Setahun, Ini Sejarah dan Keutamaan Puasa Asyura

Editor: Abu Asyraf
Menghapus Dosa Setahun, Ini Sejarah dan Keutamaan Puasa Asyura
ILUSTRASI: Salah satu tradisi menyambut Muharam.

RAKYATKU.COM - Tahun baru Islam, 1 Muharam 1440 Hijriah diperingati dengan beragam kegiatan, Selasa (11/9/2018). Di balik itu, ada momen penting yang sayang untuk dilewatkan.

Salah satu keutamaan bulan Muharam adalah adanya puasa ‘Asyura pada hari kesepuluh. Ia merupakan hari agung pada bulan suci Muharram. Keagungan hari ini disamping karena merupakan salah satu hari dari bulan Muharram yang merupakan asyhurul hurum, ia juga merupakan hari bersejarah. 

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
Imam Muslim menuturkan bahwa ketika tiba di Madinah nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi berpuasa. 

“Puasa apa ini?”, tanya sang Nabi. Mereka menjawab, “Ini adalah hari baik dan
agung, hari dimana Allah menyelamatkan nabi dan kaumnya serta menenggelamkan
Fir’aun dan kaumnya. Maka nabi Musa berpusa pada hari ini sebagai tanda
syukurnya kepada Allah. Sehingga kami pun berpuasa sebagai pengagungan kepada
hari ini dan nabi Musa”. 

Nabi bekata, “Kami lebih berhak atas Musa dari kalian”. Oleh karena itu nabi berpuasa
pada hari ‘Asyura tersebut dan menyuruh para sahabat untuk turut berpuasa. Beliau
mengatakan kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak atas Musa dari mereka”.

Dikutip dari Wahdah.or.id, ada empat fase atau tahapan puasa ‘Asyura dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu fase di Mekah dan tiga fase berkutnya di Madinah setelah hijrah. 

Pertama, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan puasa Asyura bersama orang
Musyrikin Mekah, tanpa memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.

Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Dahulu orang Quraisy
berpuasa A’syura pada masa jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa ‘Asyura pada masa
jahiliyah. Ketika hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan
manusia untuk berpuasa juga. Ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, beliau
bersabda, “Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa, juga tidak
mengapa”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Kedua, Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tiba di Madinah, beliau melihat
orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, akhirnya beliau pun berpuasa dan
memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, sebagaimana dalam hadits riwayat
Bukhari dari Ibnu Abbas di atas.

Saat itu puasa ‘Asyura menjadi kewajiban dimana Rasulullah menguatkan
perintahnya dan sangat menganjurkan sampai-sampai para sahabat melatih anak-
anak mereka untuk puasa ‘Asyura. Imam Bukhari meriwayatkan tentang hal tersebut
dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliallahu ‘anha. 

Beliau mengatakan: Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah
untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya
dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia melanjutkan
puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami
mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika
ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu
seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Bukhari).

Ketiga, ketika puasa Ramadan diwajibkan, hukum puasa Asyura menjadi anjuran dan
tidak wajib, sebagaimana dikatakan oleh A’isyah radhiyallahu ‘anha di atas.

Keempat, Pada akhir hayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ingin puasa
tasu’a (9 Muharam) serta memerintahkan para sahabat untuk melakukan puasa
tanggal 9 dan tanggal 10 Muharam, sebagai bentuk sikap menyelisihi orang Yahudi.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Beliau berkata, “Ketika Nabi puasa Asyura dan
beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata:
“Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan
Nasara!! Maka Rasulullah berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa
bersama tanggal sembilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun
depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu”. (HR. Muslim).

Keutamaan Puasa ‘Asyura

1. Paling Afdal Setelah Ramadan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Puasa yang paling afdhol setelah puasa
Ramadan adalah puasa pada bulan Allah (yakni bulan) Muharam. (HR. Muslim)

Menurut sebagian ulama bahwa yang dimaksud dengan puasa pada bulan Muharam
dalam hadits tersebut adalah puasa ‘Asyura.

2. Puasa yang Diwajibkan sebelum Puasa Ramadan

Sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadan, puasa yang diwajibkan kepada
Rasululah dan kaum Muslimin adalah puasa Asyura. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma
berkata: “Nabi dahulu puasa Asyura dan memerintahkan manusia agar berpuasa
pula. Ketika turun kewajiban puasa Ramadan, puasa ‘Asyura ditinggalkan”. (HR.
Bukhari dan Muslim).

3. Nabi Bersemangat Melakukannya

Puasa Asyura merupakan puasa sunnah yang sangat dijaga dan diperhatikan oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dituturkan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma; “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-
benar perhatian untuk berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan dari hari lain
melebihi puasa ‘Asyura ini dan bulan Ramadan”. (HR. Bukhari).

4. Menghapus Dosa Setahun

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, puasa ‘Asyura dapat
menghapuskan dosa selama setahun. Beliau bersabda, ", . . dan puasa ‘Asyura saya
memohon kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang sebelumnya”. (HR.
Muslim).

Berita Terkait