Rabu, 12 September 2018 13:14 WITA

Honorer K2 Merasa Terzalimi, Andi Mariattang: Pemerintah Jangan Diskriminatif

Editor: Abu Asyraf
Honorer K2 Merasa Terzalimi, Andi Mariattang: Pemerintah Jangan Diskriminatif
Anggota DPR RI Andi Mariattang

RAKYATKU.COM - Rencana penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 disambut gembira. Namun, sebagian honorer kategori dua (K-2) meradang. Mereka merasa terzalimi dengan kebijakan pemerintah yang membatasi umur.

Anggota DPR RI asal Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Andi Mariattang ikut bereaksi. Politikus yang baru saja masuk Senayan menggantikan Andi Djamaro Dulung itu menyebut pembatasan umur bagi honorer K-2 cenderung tidak adil.

"Seharusnya objektif lah. Banyak di antara mereka (non PNS) justru lebih banyak kerjanya," kata Andi Mari, sapaan akrab anggota Komisi II DPR RI ini, Rabu (12/9/2018).

Pada penerimaan CPNS yang dibuka mulai 19 September 2018, Kemenpan-RB memang mengakomodasi honorer K-2. Namun, usianya dibatasi maksimal 35 tahun. Padahal, ada yang sudah bertahun-tahun mengabdi hingga usianya lewat batas. Inilah yang disebut Andi Mari, tidak adil.

Mantan anggota DPRD Sulsel dua periode itu mengatakan, pembatasan usia maksimal 35 tahun diskriminatif karena fakta-fakta di lapangan usia di atas 35 tahun itu masih dominan yang bekerja produktif. 

Mariattang tidak menampik jika persoalan ini termasuk pelik. Sebab sejauh ini, pemerintah menganggap secara de jure, persoalan honorer ini sebenarnya sudah selesai. Sesuai PP 56 Tahun 2012, pemerintah telah memberikan kesempatan terakhir kepada honorer K2 untuk mengikuti seleksi pada 2013.

"Kita dapat informasi, honorer K2 yang tidak memenuhi persyaratan untuk mengikuti seleksi CPNS, akan diberi kesempatan mengikuti seleksi sebagai PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), setelah PP-nya ditetapkan pemerintah. Tapi pertanyaannya, adakah solusi ini akan memenuhi rasa keadilan bagi mereka?"

Andi Mari berharap, pemerintah memberi solusi yang adil terhadap honorer K-2. "Pemerintah harus responsif memberikan informasi bagaimana solusi terhadap mereka-mereka ini," tegas Andi Mariattang.