Minggu, 02 September 2018 15:48 WITA

OPINI

Media dan Pernikahan Dini

Editor: Aswad Syam
Media dan Pernikahan Dini
Qudratullah, S.Sos., M.Sos.

RAKYATKU.COM - Pernikahan, merupakan sebuah ritual sakral yang sarat akan kebahagiaan.

Pernikahan merupakan mimpi setiap insan manusia, untuk hidup bersama
dengan pasangan hidupnya, guna saling melengkapi. 

Di Indonesia, ritual pernikahan berbeda-beda sesuai dengan latar belakang budaya yang ada di setiap tempat. Jika menengok di Sulawesi Selatan, pernikahan di provinsi yang terkenal dengan coto dan konronya tersebut, masih identik dengan uang panai. 

Tingginya uang panai perempuan-perempuan di Sulawesi Selatan, kerap kali menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Terkadang, uang panai menjadi salah satu kendala. Hubungan dua insan yang telah lama terjalin, harus kandas karena tidak mampunya pihak lelaki
menunaikan uang panai, yang ditawarkan pihak perempuan.

Saat ini, media kerap kali memuat berita mengenai pernikahan yang unik. Di antaranya, pernikahan dengan uang panai, pernikahan dengan perbedaan usia yang jauh, hingga pernikahan dini. Media seakan tak ingin lepas dan terlambat dalam meng-update berita pernikahan yang unik tersebut.

Tentu hal tersebut tidak dapat disalahkan, karena memang pada dasarnya, pernikahan-pernikahan yang disebutkan tersbut memiliki nilai keunikan, yang merupakan salah satu nilai dari sebuah berita.

Belakangan ini, Sulawesi Selatan memang kerap menjadi pembicaran dalam hal pernikahan yang unik. Sebut saja, pernikahan Andi Rahmaniar Idrus yang berusia 26 tahun pada Juli 2016, dengan pengusaha Jaya Barumuli dengan usia 52 tahun, dengan uang panai Rp599 juta. 

Selain itu, ada pula Kurnia Amaliah Hambali dengan Anjas Malik, muda-mudi yang melangsungkan pernikahan di Jeneponto dengan uang panai Rp1 miliar, mobil MPV premiu Toyota Alphard tipe G, emas dan rumah, serta tanah satu hektare. 

Hingga pernikahan dini yang kini sedang viral di media massa. Pernikahan tersebut terjadi di Kabupaten Bantaeng. Lelaki  yang baru saja lulus dari Sekolah Dasar (SD) berusia 13 tahun berinisial R, mempersunting M berusia 17 tahun, yang masih duduk di bangku kelas 2 SMK. Pernikahan tersebut berlangsung meriah pada 30 Agustus 2018.

Pernikahan dini yang masih hangat menjadi perbincangan masyarakat
tersebut, mengulang kembali kisah gadis FA yang berusia 14 tahun dengan S berusia 16 tahun, yang juga terjadi di Bantaeng dan sontak viral pada April 2018. (Sumber: Tribun Timur dan CNN Indonesia).

Melihat pernikahan dini yang viral tersebut, beberapa komentar jelas
keluar dari mulut masyarakat dan jari-jemari warganet. Tentu
banyak yang menyayangkan bahkan mengeluarkan komentar-komentar “pedas” terhadap pihak keluarga mereka. Jika mengacu pada aturan pernikahan di Indonesia, memang pernikahan dini tidak dibenarkan. 
Untuk diakui secara hukum, sebuah pernikahan harus sesuai dengan aturan dalam pasal 7 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 yakni 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan.

Pernikahan dini yang dianggap unik tersebut, jelas tidak dapat
terhindar dari sentuhan media untuk disampaikan kepada masyarakat
luas. Hanya saja, perlunya media untuk lebih memahami psikologi
mempelai dan keluarganya. Setidaknya media tidak terus-terus
“menyerang” dengan terus memberitakan kejadian tersebut. Meskipun
dalam hal ekonomi media, hal tersebut menguntungkan media.

Lihat saja ketika pernikahan dini di Bantaeng yang terjadi pada April
2018 di Bantaeng, dikutip dari salah satu berita CNN Indonesia di mana mempelai perempuan FA berusaha mengindari media, dengan berpindah tempat tinggal ke rumah keluarganya yang lain. Selain itu, wajah anak-anak yang menikah dan namanya pun sebaiknya tidak diperlihatkan dan disebutkan dengan jelas, karena tentu beban psikologi akan semakin menjadikan anak-anak tersebut semakin berat. 
Bisa saja mereka akan takut bertemu dengan orang banyak, hingga nantinya mengurung diri dan tidak lagi bersosialisasi dengan banyak orang.

Menjadi buah bibir masyarakat dengan pernikahan dini, tentu tidak
selalu terkait hal positif tetapi juga negatif. Kebijakan-kebijakan
media harus diperhatikan. Bukan semata keuntungan dari viewers tetapi
juga perlu memperhatikan objek pemberitaan. 

Media diharapkan mampu menjadi salah satu wadah pembelajaran bagi para penggunanya. Diharapkan dalam hal semacam ini, media lebih cenderung memberitakan edukasi, yang dapat mengurungkan niat para anak-anak untuk menikah dini. Salah satunya dengan memuat berita mengenai dampak pernikahan dini, dampak terhadap kesehatan, masa depan generasi bangsa dan sebagainya. Bukan sekadar menyoroti dari segi pernikahan dini semata.

Memang sangat disayangkan pernikahan yang terlalu dini. Banyak
kerugian yang ditimbulkan, baik dari segi pendidikan, kesehatan dan
juga dampak sosial seperti yang diuraikan tadi.

Oleh: Qudratullah, S.Sos., M.Sos.
Mahasiswa Program Doktor Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar