Selasa, 28 Agustus 2018 08:26 WITA

Benarkah Rifki Meninggal karena Pemfigus Vulgaris?

Penulis: Saiful Mujib
Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Benarkah Rifki Meninggal karena Pemfigus Vulgaris?
Rifki, bocah umur 4 tahun yang meninggal.

RAKYATKU.COM, PANGKEP - Teka-teki tewasnya Rifki, bocah umur 4 tahun, asal pulau Balang Lompo, Kelurahan Mattiro Sompe, Kecamatan Tupabbiring, Kabupaten Pangkep, masih menyisakan tanda tanya. 

Benarkah Rifki meninggal karena pengaruh vaksin MR atau seperti diagnosa dokter yang memeriksa Rifki, bahwa Rifki meninggal karena penyakit langka, Pemfigus Vulgaris.

Sementara banyak pihak masih mempertanyakan perihal proses screening yang dilakukan tenaga medis sebelum memberikan vaksin kepada Rifki. Termasuk soal surat persetujuan keluarga sebelum anak diberikan vaksin.

Saat Rakyatku.com hendak mengkonfirmasi kepada pihak keluarga Rifki perihal persetujuan keluarga sebelum Rifki menerima vaksin, keluarga Rifki mengaku, persoalan ini sudah finis. Pihak keluarga pun sudah ikhlas atas kepergian Rifki.

"Pihak keluarga sudah tidak mau lagi ditanya-tanya soal ini, finis mi. Kerena sudah banyak sekali yang datang dan meminta informasi, malah nanti justru menjadi beban emosional bagi Bapak dan Ibunya ananda Rifki," ujar salah seorang keluarga Rifki saat dihubungi via telepon selulernya. 

Pemfigus Vulgaris sendiri dari keterangan Direktur RSUD Pangkep, Annas Ahmad, merupakan penyakit autoimun yang menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang. Akibat penyakit ini, tubuh Rifki dipenuhi luka seperti cacar yang dimulai dari bagian hidung.

Loading...

"Pemfigus karena autoimun atau karena sistem kekebalan tubuh menurun jadi tidak menular. Penyakit ini bukan penyakit menular dan kita tidak tau siapa saja yang beresiko untuk terkena karena menyangkut sistem kekebalan tubuh," ujar Annas, Senin (27/8/2018).

Terkait Rifki sendiri, pihaknya telah melakukan diagnosa sebelum menyimpulkan bahwa yang bersangkutan terkena penyakit langka ini. Diantaranya anamnesis, fisik dan darah.

"Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan hanya darah rutin biasa, makanya kita sarankan untuk dirujuk ke Wahidin, agar dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa biopsi dan laboratorium tambahan tetapi pasien menolak," ungkap Annas.

"Sebenarnya harus dilakukan pemeriksaan biopsi pada lukanya akan tetapi pasien menolak untuk dirujuk ke Wahidin," tambahnya.

Loading...
Loading...