Minggu, 19 Agustus 2018 20:19 WITA

Polisi Belum Temukan Bukti Dugaan Kekerasan Kebakaran Tinumbu

Penulis: Himawan
Editor: Nur Hidayat Said
Polisi Belum Temukan Bukti Dugaan Kekerasan Kebakaran Tinumbu

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Polisi hingga kini belum menemukan bukti terkait adanya dugaan kekerasan yang terjadi kepada enam korban pembakaran rumah di Jalan Tinumbu Lorong 166 B, Kelurahan Panampu, Kecamatan Tallo, Makassar, (6/8/2018) lalu.

Saat ini polisi telah menetapkan tiga tersangka utama yang menjadi pelaku pembunuhan yang menewaskan Ahmad Fahri (Fahri) bersama lima orang keluarganya. Akbar Daeng Ampuh, narapidana di Lapas Klas IA Makasssr menjadi otaknya.

Kepolisian menyampaikan keenam korban dibunuh dengan cara dibakar, di mana Ilho (23) dan Ramma (21) yang menjadi eksekutor pembakaran.

"Tidak ada keterangan yang menguatkan dugaan-dugaan yang ramai dibicarakan bahwa dibunuh dulu lalu dibakar dan sebagainya," ungkap Plt Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Diary Astetika, Minggu (19/8/2018).

Diary menambahkan, dari pemeriksaan sejumlah saksi-saksi yang berhubungan dengan peristiwa mencekam itu, tidak satupun menguatkan dugaan Fahri bersama lima orang keluarganya dibunuh atau dianiaya terlebih dahulu sebelum dibakar. untuk menghilangkan buktim

"Jadi sesuai dengan itu saksi dan alat bukti yang ada yang dilakukan itu membakar," tuturnya.

Meski begitu, Diary mengatakan polisi tetap akan melakukan proses autopsi kepada jenazah korban. Keluarga Fahri yang jauh hari sebelumnya juga telah merelakan kuburan korban yang berada di Kabupaten Pangkep itu dibongkar.

Untuk mewujudkan hak itu, polisi tinggal menunggu kesiapan tim dokter forensik yang akan ke Pangkep. Diary menyebut tim dokter forensik Bhayangkara masih menunggu dokter forensik Universitas Hasanuddin (Unhas).

Loading...

"Nanti kita lihat kalau dokter forensik masih lama pasti rekonstruksi duluan," beber Diary.  

Sebelumnya, pihak keluarga korban pembakaran masih mengakui adakejanggalan atas kematian Fahri bersama lima korban lainnya. Ada dugaan dihabisi lebih dahulu sebelum dibakar.

Menurut salah satu keluarga korban, HL, dari beberapa informasi yang didapatnya, saat api belum terlalu besar, para tetangga korban sempat memanggil nama Sanusi untuk keluar rumah. Mereka memanggil karena pada waktu itu, masih memungkinkan penghuni rumah di dalam untuk keluar dengan selamat. 

Namun, para tetangga sama sekali tidak mendengar suara dari dalam rumah. Bahkan warga yang ingin menolong sempat melempar rumah korban, agar para penghuni rumah bangun (para warga sempat berpikir keenam penghuni sedang terlelap), tetapi Sanusi bersama lima keluarganya tak menyahut. 

"Waktu dipanggil namanya semua, yang pertama mertua saya, tidak ada sama sekali jawaban di dalam. Kalau misalnya ada kebakaran, pasti panik orang di dalam itu, minta tolong dan melarikan diri. Ini sebelum besar api sudah ada warga, tapi tidak ada jawaban dari dalam," urai HL. 

Untuk itu, pihak keluarga yakin tidak hanya tiga tersangka utama yang menyebabkan kematian Fahri bersama lima orang keluarganya.

Loading...
Loading...