Sabtu, 18 Agustus 2018 09:50 WITA

"Keluar dari Sini", Usir Pewawancara Kerja Saat Muslimah Cantik Ini Tolak Jabat Tangan

Editor: Aswad Syam
Farah Alhajeh

RAKYATKU.COM, SWEDIA - Seorang wanita Muslim yang ditolak dari pekerjaan karena menolak menjabat tangan pewawancara laki-laki, akhirnya diberikan kompensasi sebesar £3,000 atau sekitar Rp55 juta. 

Farah Alhajeh (24), adalah kandidat untuk peran sebagai penerjemah.  Tetapi pada saat kedatangannya di ruang wawancara, dia mengatakan kepada pria yang mewawancaranya, bahwa dia tidak bisa menjabat tangannya. 

Dia malah menyapanya dengan meletakkan tangan di atas hatinya, seperti yang umum di kalangan Muslim. 

Namun dia mengklaim, dia diberitahu bahwa wawancara telah selesai dan diperintahkan untuk meninggalkan kantor di Stockholm, Swedia. 

Farah mengatakan, dia digiring keluar pintu setelah menolak menjabat tangan pewawancara. "Segera setelah saya masuk ke lift, saya mulai menangis," kata Farah kepada publikasi Swedia  SVT. 

"Itu tidak pernah terjadi pada saya sebelumnya - itu tidak terasa baik sama sekali. Itu mengerikan," lanjut Farah.

Loading...

Farah kemudian melaporkan perusahaan itu kepada ombudsman diskriminasi Swedia, yang membawa kasusnya ke pengadilan. Dia memenangkan kasusnya minggu ini, dan mendapat kompensasi £3.420. 
Kantor ombudsman diskriminasi Swedia mengatakan, keputusan itu telah mempertimbangkan 'kepentingan majikan, hak individu untuk integritas tubuh, dan pentingnya negara untuk mempertahankan perlindungan untuk kebebasan beragama'. 

Berbicara setelah kasus itu, Farah mengatakan kepada BBC: "Saya percaya pada Tuhan, yang sangat langka di Swedia... dan saya harus bisa melakukan itu dan diterima selama saya tidak menyakiti siapa pun."

"Di negara saya, Anda tidak dapat memperlakukan wanita dan pria secara berbeda. Saya menghargai itu. Itu sebabnya saya tidak memiliki kontak fisik dengan pria atau wanita," ujarnya.

Pengadilan mendengar keputusan Farah untuk tidak berjabat tangan dilindungi oleh Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia, dan kebijakan perusahaan dalam menuntut ucapan tertentu merugikan orang Muslim. 

Tapi mengenai jabat tangan tradisional di Eropa, perusahaan penafsir telah menyatakan, stafnya diharuskan untuk memperlakukan pria dan wanita secara setara, dan tidak dapat mengizinkan seorang anggota staf untuk menolak jabat tangan berdasarkan jenis kelamin.

Loading...
Loading...