Jumat, 17 Agustus 2018 18:37 WITA

Ini Ulasannya, Pemuda Masih Sulit Saingi Orang Tua di Parlemen

Penulis: Sutrisno Zulkifli
Editor: Aswad Syam
Ini Ulasannya, Pemuda Masih Sulit Saingi Orang Tua di Parlemen
Pengamat Politik Unismuh, Andi Luhur Priyanto, saat berbicara dalam diskusi politik di Warkop Humanity, Jalan Todopuli 10, Makassar.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR -- Peran pemuda dalam kancah politik, masih terbilang sedikit. Apalagi, untuk mendapatkan posisi penting dalam struktural pemerintahan, baik di eksekutif dan legislatif.

Dalam lingkup partai politik, pemuda juga masih dinilai tidak punya andil besar. Padahal, partai politik adalah alat demokrasi untuk meraih kekuasaan demi keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.

Dalam diskusi yang digelar Center For Islamic Research and Consultancy (CIRC) bertajuk "Menakar Peluang Caleg Muda 2019", di Warkop Humanity, Jalan Todopuli 10, Makassar, Pengamat Politik Unismuh, Andi Luhur Priyanto selaku narasumber mengatakan, pemuda seyogyanya harus siap menghadapi kontestasi politik. Tapi, katanya, dengan catatan juga harus mempunyai pengalaman dan wawasan yang mumpuni.

Di sisi lain, Luhur menilai, budaya politik di Sulsel yang cenderung mengandalkan ketokohan dan nama besar keluarga, menghambat politikus-politikus muda mengambil peran di legislatif.

"Itu yang menjadi tantangan caleg muda yang bukan dari kalangan nazab tertentu," ucapnya.

Ia mencontohkan, jarang ada figur politkus muda, jika bukan dari kalangan orang-orang besar yang lebih dahulu berkecimpung dalam dunia politik. Inilah yang disebut Luhur, budaya politik patronase atau mengandalkan jejaring orang lain.

Kendati demikian, Luhur menilai, pemuda masih bisa bersaing dengan kalangan-kalangan tua dalam merebut kekuasaan. Salah satu caranya, dengan melakukan konsolidasi secara baik dan punya kontribusi nyata kepada masyarakat.

"Karena kalau anak muda hanya bisa menawarkan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Itu menjadi salah satu tantangan. Dan itu yang harus mampu dikelola dengan baik pemuda, ketika melakukan sosialisasi kepada masyarakat," paparnya.

Diharapkan pula, ketika sudah bisa terpilih menjadi anggota parlemen, pemuda diminta menjadi pemain aktif, bukan pasif. "Dalam artinya ikut berperan dalam pengambilan kebijakan-kebijakan partai yang sifatnya berdampak luas kepada masyarakat. Bukan justru diam dan hanya ikut arus kebijakan partai. Di situ tantangannya," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Wahyuddin juga merasakan, jika pengaruh pemuda di masyarakat masih belum signifikan. 

Ia mengambil satu contoh kasus. Jika misalnya mahasiswa 'diperhadapkan' dengan kepala lingkungan atau RT/RW, masyarakat cenderung akan mengikuti arahan dari kepala lingkungan atau RT/RW setempat, ketimbang mahasiswa meskipun berlabel aktivis.

"Karena masyarakat umumnya itu butuh bukti. Sementara pemuda-pemuda itu dianggap tidak punya bukti-bukti riil, seperti membantu apa dan telah memberi apa. Ini yang jadi problem kita juga sebetulnya," kata politkus PAN tersebut.

Padahal, ia masih percaya, masih banyak pemuda yang bisa menjadi corong keberpihakannya kepada masyarakat, jika diberi amanah untuk terlibat dalam pembuatan kebijakan.