Minggu, 12 Agustus 2018 19:43 WITA

Pembunuhan Tinumbu 'Pintu' Bongkar Sindikat Narkoba Dalam Lapas

Editor: Aswad Syam
Pembunuhan Tinumbu 'Pintu' Bongkar Sindikat Narkoba Dalam Lapas
Pelaku pembakaran rumah yang menewaskan 6 orang di Tinumbu, dihadirkan polisi dalam konferensi pers di Mapolrestabes Makassar, Minggu (12/8/2018).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Peredaran narkoba dari dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas) di Makassar, kian memprihatinkan. Kasus kebakaran di Tinumbu yang menewaskan Fahri beserta lima orang keluarganya, adalah salah satu akibat di balik peredaran sindikat narkoba dari dalam lapas.

Akbar Ampuh (32) menjadi dalang di balik kebakaran yang menimpa Fahri bersama lima keluarganya di Jalan Tinumbu lorong 166 B pada Senin (6/6/2018) lalu. Utang penjualan narkoba Fahri yang mencapai nilai Rp10 juta, menjadi awal mula ia mengotaki kasus pembakaran di rumah milik Sanusi itu. 

"Akbar merupakan narapidana kasus pembunuhan dan narkotik. (Akibat) kasus pembunuhan, ia divonis selama 12 tahun dan baru menjalani sekitar kurang lebih 5 tahun hukuman penjara," kata Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Irwan Anwar, Minggu (12/8/2018).

Kematian Fahri menyisakan duka bagi keluarga, sekaligus tugas bagi kepolisian untuk mengungkap sindikat jaringan peredaran narkoba yang terjadi dari dalam lapas. Timbangan narkotika yang ditemukan di kamar Akbar, merupakan bukti bahwa pengawasan di Lapas Klas IA Makassar masih belum ketat. 

Sekitar lima tahun di dalam lapas membuat Akbar sebelum diamankan polisi, bebas melakukan transaksi narkoba. Akbar mengaku mendapati barang narkoba dari rekannya yang kini berada di luar lapas. Seseroang itu berinisial 'A'. 

Melalui Irwan Lili (narapidana kasus pembunuhan), ia pun terhubung dengan Fahri untuk mengedarkan narkoba. Diduga, tidak hanya Fahri yang mengedarkan narkoba dalam bentuk sasetan yang berasal dari Akbar. Narkoba itu juga didapat Akbar diduga berasal dari orang yang berada di luar lembaga pemasyarakatan. 

Karena Fahri tidak kunjung membayar, pada Sabtu (4/8/2018) lalu, Riswan alias Ako bersama rekan-rekannya di geng motor "T", mendatangi rumah orang tua Fahri, (H. Amir), setelah melakukan pengeroyokan terlebih dahulu terhadap Fahri. Dari keterangan Kapolrestabes Makassar, pada saat itu Riswan alias Ako menagih utang Fahri sebanyak Rp1 juta. 

"Pengeroyokan ini berawal dari Irwan Lili, yang menelepon Riswan untuk menagih utangnya. Namun, Fahri selalu menghindar dan berjanji," imbuh Irwan. 

Sementara keesokan harinya, Andi Muhammad Ilham bersama rekannya R, juga datang menagih karena mendapati Fahri ingin ke Kendari keesokan harinya. Dari keterangan Kombes Pol Irwan, utang Fahri di Akbar Ampuh mencapai Rp29 juta. Namun, Akbar saat rilis Polrestabes mengatakan, utang Fahri hanya Rp10 juta. 

"Sembilan saset itu kalau diperkirakan Rp10 juta," kata Akbar. 

Ilho kemudian melakukan pembakaran pada pukul 02.30 Wita atas instruksi Akbar dari dalam lapas melalui pesan messenger di Facebook. Usai menyiram rumah milik Sanusi mulai dari bawah hingga atas rumahnya, Ilho pun menyulut api. Api menghanguskan tiga rumah, namun korban hanya datang dari rumah H Sanusi, yakni, Fahri, dan lima anggota keluarganya, termasuk pemilik rumah yang juga kakek Fahri, H Sanusi. 

Sementara itu, H. Amir yang merupakan ayah Fahri berharap, semua pelaku yang terlibat atas kasus pembakaran yang menewaskan keluarganya, bisa diungkap polisi. Satu tersangka berinisial R sudah ditetapkan polisi sebagai DPO. 

"Saya berharap semoga banyak tersangkanya yang ditangkap. Karena saya yakin, tidak sedikit ini pelaku," ujar Amir beberapa waktu lalu.