Minggu, 12 Agustus 2018 15:46 WITA

Trump Dituduh Menelan Catatan Berisi Informasi Sensitif

Editor: Suriawati
Trump Dituduh Menelan Catatan Berisi Informasi Sensitif
Donald Trump dan Omarosa Manigault Newman (Reuters)

RAKYATKU.COM - Seorang mantan pembantu Gedung Putih mengatakan pernah melihat Presiden Donald Trump menelan kertas yang berisi informasi sensitif.

Omarosa Manigault Newman mengatakan bahwa hal itu dilakukan Trump setelah pertemuan dengan pengacara Michael Cohen.

Dalam buku barunya, berjudul Unhinged: An Insider Account of the Trump White House, Newman membuat serangkaian tuduhan aneh tentang tingkah laku sang presiden.

Menurut Washington Post, salah satu isi buku tersebut mengatakan, "Saya melihat dia (Trump) menaruh catatan di mulutnya. Karena Trump adalah germaphobe, saya terkejut dia tampak mengunyah dan menelan kertas. Itu pasti sesuatu yang sangat, sangat sensitif."

Namun beberapa pembantu Gedung Putih lainnya yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Washington Post bahwa kisah itu tidak benar, dan menertawakan tuduhan itu. 
Dalam sebuah pernyataan resmi, Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders menyebut Newman sebagai "mantan karyawan Gedung Putih yang tidak puas, yang mencoba mengambil keuntungann dari serangan-serangan palsu."

Cerita itu hanya salah satu dari serangkaian tuduhan yang dibuat Newman tentang presiden dan stafnya. Dia juga melabeli Trump "rasis, misoginis, dan fanatik," dan mengatakan bahwa dia berulang kali menggunakan penghinaan rasial, meskipun dia tidak memberikan bukti tentang dugaan itu.

Mantan pembantu itu meninggalkan Gedung Putih pada bulan Desember, setelah dipecat oleh Kepala Staf John Kelly.

Sumber Gedung Putih menggambarkan Newman sebagai karyawan yang payah. Beberapa tidakannya yang tidak bisa diterima misalnya bersifat argumentatif dan agresif terhadap karyawan. Dia juga dicurigai telah merekam percakapan di dalam Gedung Putih.

Newman telah mengenal Trump selama lebih dari satu dekade dan sama-sama pernah membintangi The Apprentice. Dia bekerja di Gedung Putih selama setahun sebagai asisten presiden.