Kamis, 09 Agustus 2018 09:29 WITA

"Jangan Pulang", Australia Lucuti Kewarganegaraan Lima Jihadis ISIS

Editor: Aswad Syam
Para pejuang ISIS di Timur Tengah

RAKYATKU.COM, SYDNEY - Lima jihadis Australia yang melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk bergabung dengan ISIS, telah kehilangan kewarganegaraan mereka.

Tiga pria dan dua wanita, tidak akan pernah menginjakkan kaki di Australia lagi, setelah pemerintah bergerak cepat menghentikan mereka kembali melakukan serangan di tanah asal.

Sebuah proses rahasia yang dilakukan dengan ASIO membuktikan, kelima orang itu hanya setia pada ISIS, dan menimbulkan risiko radikalisasi pemuda yang rentan atau merencanakan serangan teror baru.

Kelima termasuk beberapa yang berjuang untuk ISIS secara langsung, dan lainnya yang memberikan dukungan untuk kelompok ekstremis. Demikian laporan The Daily Telegraph. 

Identitas para teroris belum dikonfirmasi, dan mereka berada di antara sekitar 100 warga Australia yang tinggal di wilayah itu, setelah bergabung dengan kelompok-kelompok teror di Irak dan Suriah.

Mereka termasuk Neil Prakash, sosok senior ISIS di balik jeruji besi di Turki atas tuduhan teror, dan dokter Adelaide Tareq Kamleh.

Satu-satunya warga Australia lainnya yang dicopot dari kewarganegaraan mereka karena bergabung dengan ISIS diyakini sebagai teroris terkenal Khaled Sharrouf, tewas di Irak. 

Sharrouf difoto memegang kepala terputus di samping teman dan sesama rekrutan ISIS, mantan juara tinju Sydney Mohammed Elomar, dan Sharrouf memposting foto putranya melakukan hal yang sama.

Sebanyak 230 warga Australia telah bergabung dengan Negara Islam, dan sekitar 90 telah tewas dalam pertempuran. 

Mereka bergabung dengan 54 warga Australia yang dihukum karena pelanggaran teror, dan 39 lainnya berada di depan pengadilan setelah dituduh.

Menteri Dalam Negeri Peter Dutton mengatakan, awal tahun ini ia khawatir hukum yang mengizinkan kewarganegaraan dilucuti tidak diterapkan dengan benar.

"Kami tahu ada dua warga negara di antara warga Australia yang bertempur dengan teroris di Timur Tengah, namun para pejabat sejauh ini menegaskan bahwa hanya satu yang kehilangan kewarganegaraan mereka di bawah operasi hukum," kata Dutton pada Februari.

"Saya tidak ingin orang-orang datang kembali ke negara kami, yang telah berjuang atas ISIS," tambahnya.

Menurut Dutton, dia tidak ingin orang-orang yang sudah hidup dengan kekerasan perang di Timur Tengah, terampil dalam seni pembuatan bom dan aktivitas teroris lainnya, bisa melenggang kangkung di kota-kota di Australia. 

"Saya ingin orang-orang itu berada sejauh mungkin dari pantai kami," pungkasnya.