Jumat, 03 Agustus 2018 14:00 WITA

Empat Dosen Asal Sulsel Masuk Daftar Bacaleg PDIP

Editor: Mulyadi Abdillah
Empat Dosen Asal Sulsel Masuk Daftar Bacaleg PDIP
Foto: IST

RAKYATKU.COM - Sebanyak empat dosen asal Sulsel tercatat sebagai bakal calon legislatif (bacaleg) PDIP di Pemilu 2019. Siapa saja?

Mereka adalah Prof DR Dr Razaq Thaha (Guru Besar Universitas Hasanuddin), Dr. Asmaeny Azis (Dosen), Dr Ulfah Mawardi, (Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar) dan AM Sapri Pamulu (Dosen). 

Keempatnya sudah menjalani pembekalan paradigma ekonomi berdikari di kantor DPP Jl. Diponegoro 58, Jakarta Pusat, Kamis (2/8/2018) kemarin. Total akademisi dan dosen yang menjadi bacaleg PDIP sebanyak 19 orang.

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengharapkan, para profesor dan doktor yang bergabung dan bila terpilih menjadi anggota DPR dapat menjabarkan sekaligus mempraktikkan gagasan ekonomi berdikari yang dicanangkan Bung Karno.

“Bagaimana kita berdiri di atas kaki sendiri dengan seluruh aspek kehidupan kita di tengah  perkembangan liberalisasi ekonomi dan juga politik yang luar biasa belakangan ini,” ujar Hasto.

Loading...

Untuk mewujudkan ekonomi berdikari, menurut Hasto, PDI Perjuangan menyadari kebijakan yang diambil harus berdasarkan data akurat bersumber dari ilmu dan pengetahuan. Kebijakan berdasarkan riset ini pula yang terus didorong Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri kepada Presiden Jokowi.

“Ketika Ibu Mega berdialog dengan Pak Presiden Jokowi membahas pengumuman kembali Pak Jokowi sebagai capres, pertemuan itu pada hari Jumat 23 Februari 2018. Dalam suasana yang sangat kontemplatif, Ibu Mega berpesan agar Jokowi mendirikan Badan Riset Nasional, dimana semua data terintegrasi,” kata Hasto.

Data yang terintegrasi itu, setidaknya memuat empat hal, yakni data manusia, flora, fauna dan teknologi. Data ini bisa digunakan untuk pengembangan ekonomi suatu daerah secara terfokus. Begitu pula hasil penelitian, tidak berhenti hanya untuk diri sendiri namun riset yang berpihak bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Ibu Mega punya imajinasi, misalnya Kabupaten Karo fokus pada sayur-mayur sehingga produk massal dan berkualitas bisa datang dari sana. Bisa dikemas dengan baik, misalnya dengan label cita rasa surga. Kemudian dari Papua fokus umbi-umbian,” jelas Hasto.

Loading...
Loading...