Senin, 23 Juli 2018 17:55 WITA

Antisipasi Jual Gabah Ke Tengkulak, Bulog Kumpulkan Petani di Maros

Editor: Nur Hidayat Said
Antisipasi Jual Gabah Ke Tengkulak, Bulog Kumpulkan Petani di Maros

RAKYATKU.COM, MAROS - Jelang musim panen padi di beberapa wilayah di Kabupaten Maros, Bulog Divre VII mengumpulkan beberapa mitra Bulog dan petani di Maros. Untuk mengantisipasi pembelian gabah milik petani oleh tengkulak.

Kadivre Bulog Sulselbar, Mansur Siri, menjelaskan pihaknya berharap dalam panen raya ada gabah dan beras yang diserap ke Bulog. Untuk Kabupaten Maros, Bulog menargetkan beras dan gabah yang dapat dimasukkan ke Bulog sampai 9.000 ton.

"Targetnya kami penyerapan beras dan gabah di wilayah Maros mencapai 9.000 ton. Kami menunggu petani, mitra Bulog untuk menjual beras dan gabahnya ke kami. Berapapun banyaknya, Bulog pasti beli. Dan kami harap, Subdivre Bulog Maros mampu memenuhi target penyerapan beras dan gabah ke bulog," kata Mansur, Senin (23/7/2018).

Dia berharap, petani tak lagi menjual berasnya kepada tengkulak yang berasal dari luar kabupaten Maros. Ini supaya Subdivre Maros mampu memenuhi target penyerapan beras.

Ketua Satgas Pangan Polda Sulsel, AKBP Amiruddin, mengatakan 
berdasarkan pengalamannya, hampir semua daerah penghasil beras dan gabah selain Sidrap, sudah disusupi oleh tengkulak. Ulah tengkulak tersebut, kata dia, jelas merugikan petani. Karenanya pihaknya akan menindak secara hukum bila ke depannya ada tengkulak yang kedapatan membeli gabah maupun beras dari petani. 

"Bila petani menjual gabahnya ke tengkulak, jelas itu merugikan petani. Karena mereka akan kehilangan beberapa kilo dalam satu karungnya. Makanya tim Satgas pangan akan melakukan pengawasan ketat, supaya beras dan gabah Maros tidak lagi dijual ke tengkulak dan akan dibawa ke Kabupaten Sidrap untuk dipoles dan dijual dengan harga yang lebih tinggi oleh tengkulak," ujarnya. 

Anggota Komisi III DPRD Maros, Hermanto, menuturkan seharusnya untuk menghindari gejolak petani di musim panen, Dinas Pertanian harus memperhatikan aspirasi petani. Termasuk membeli dari petani dengan harga tinggi dari harga yang ditawarkan oleh tengkulak. 

"Kalau tidak seperti itu, maka Bulog dan pemerintah daerah, harus bersaing dengan penadah padi dari luar Maros yang lebih berani membeli padi dan gabah petani dengan harga tinggi. Makanya harus ada solusi, supaya petani tidak dirugikan, pemerintah dan Bulog juga mencapai targetnya," jelasnya.