Sabtu, 21 Juli 2018 13:02 WITA

Gadis 10 Tahun Meninggal karena Pendarahan Usai Disunat

Editor: Suriawati
Gadis 10 Tahun Meninggal karena Pendarahan Usai Disunat
Alat pemotong FGM, yang termasuk telur untuk merekatkan luka dan minyak tanah untuk pembersihan luka. (Foto: UNFPA via The Guardian).

RAKYATKU.COM - Seorang gadis berusia 10 tahun di Somalia meninggal setelah disunat atau prosedur yang dikenal dengan istilah female genital mutilation (FGM).

The Guardian melaporkan bahwa Deeqa Dahir Nuur menjalani prosedur itu pada 14 Juli di desa Olol, kira-kira 65 km dari Dhusmareb, di negara bagian Galmudug.

Operasi itu memutuskan urat nadi Nuur dan membuatnya mengalami pendarahan. Namun gadis itu baru dibawa ke rumah sakit Dhusmareb dua hari kemudian, ketika keluarganya tidak mampu menghentikan pendarahan. Nuur meninggal di rumah sakit karena kehabisan darah, kata aktivis Hawa Aden Mohamed dari Pusat Pendidikan Galkayo untuk Perdamaian dan Pembangunan.

Menteri Negara Galmudug untuk urusan perempuan mengunjungi keluarga itu di rumah sakit untuk menyampaikan belasungkawa dan menjelaskan risiko kematian dalam operasi FGM.

"Wanita yang melakukan operasi belum ditangkap, api bahkan jika dia ditangkap, tidak ada hukum yang akan memastikan dia dihukum atas tindakan itu," kata Mohamed.

“Sulit untuk memperkirakan jumlah gadis yang meninggal karena FGM per bulan atau per hari karena mereka [disumpah] untuk menjaga kerahasiaan, khususnya di daerah pedesaan. Kami hanya mendengar beberapa kasus dari mereka yang cukup berani untuk mencari perawatan medis di kota-kota.”

Aktivis berharap bahwa kasus terbaru ini dapat membantu menghilangkan mitos di Somalia bahwa FGM aman.

“Ini benar-benar tidak benar. Ini sering memiliki konsekuensi medis dan psikologis seumur hidup, dan, seperti yang telah kita lihat, (dapat menyebabkan) kematian.”

Secara konstitusional, FGM di ilegal, tapi tekanan dari kelompok konservatif dan agama mencegah anggota parlemen meloloskan undang-undang untuk menghukum pelanggar.

Menurut Unicef, mayoritas gadis di Somalia menjalani FGM antara usia lima hingga sembilan tahun. Hampir dua pertiga mengalami infibulasi, bentuk prosedur yang paling berat. Ini melibatkan penyempitan pembukaan vagina dengan menciptakan segel, dibentuk dengan memotong labia.

Secara global, bentuk FGM yang paling parah diperkirakan mempengaruhi sekitar 130 juta wanita dan gadis, yang sebagian besar dipotong oleh bidan atau tabib menggunakan alat seperti pisau, silet, bahkan ada yang menggunakan pecahan kaca.