Jumat, 20 Juli 2018 10:18 WITA

Ruhut Minta Kapolri Usut Bom Molotov di Rumah Mardani, Kata-katanya Menyinggung

Editor: Abu Asyraf
Ruhut Minta Kapolri Usut Bom Molotov di Rumah Mardani, Kata-katanya Menyinggung
Bom molotov yang ditemukan di pekarangan rumah politikus PKS, Mardani Ali Sera.

RAKYATKU.COM - Politikus Partai Demokrat pendukung Jokowi, Ruhut Sitompul seolah-olah ikut prihatin terhadap teror bom molotov di rumah Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera. Di balik itu, Ruhut menyinggung tagar #2019Ganti Presiden.

"Pak Kapolri dan jajarannya tolong segera diungkap kasus bom molotov di rumah inisiator # (Tagar) yang mulai layu sebelum berkembang," cuit Ruhut di Twitter, Jumat pagi (20/7/2018).

"Biar tidak ada dusta di antara kita, maklum namanya politik ada saja yang mencoba 
memanfaatkan kejadian ini. #2019 Mohon Pak JOKOWI 1X Lagi MERDEKA," lanjutnya.

Sejumlah warganet langsung bereaksi. Ada yang menyindir Ruhut yang tidak mendapatkan apa-apa atas dukungannya terhadap Jokowi selama ini. Berbeda dengan Ali Mochtar Ngabalin yang baru bergabung, tapi langsung masuk istana dan diberi jabatan komisaris Angkasa Pura I.

Warganet lainnya mengomentari tudingan Ruhut bahwa tagar #2019GantiPresiden layu sebelum berkembang. Dia mengutip hasil survei terbaru LSI yang menunjukkan gerakan itu makin diterima dan disukai masyarakat.

Berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menemukan isu tagar 2019 ganti presiden menjadi catatan bagi petahana Joko Widodo. Sebab, elektabilitas Jokowi bertengger di angka 49,3 persen. Sebagai petahana, jika belum sampai di atas 50 persen posisinya tidak aman.

Peneliti LSI Denny JA Adjie Alfaraby mengatakan, kampanye tagar 2019 ganti presiden semakin dikenal masyarakat. Pada survei Mei 2018 lalu, atau sebulan setelah digaungkan, 50,8 persen masyarakat mengenalnya. Kemudian saat ini, masyarakat yang mengetahui sampai angka 60,5 persen.

Gerakan tagar ini tak hanya makin populer. Survei menunjukkan masyarakat makin banyak yang menyukai dan menerima. Dari yang mengetahui, 54,4 persen masyarakat menyatakan suka terhadap kampanye yang dicetuskan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera itu. Persentasenya cenderung meningkat dari bulan Mei 2018, yang ketika itu tingkat kesukaan berada di 49,8 persen.

"Kampanye #2019GantiPresiden makin disukai dan diterima. Cenderung mengalami peningkatan," kata Adjie.

Catatan lainnya bagi Jokowi adalah dari 49,3 persen pemilihnya masih ada 17,3 persen yang belum memantapkan pilihannya. Sedangkan pemilih yang tak bakal memilih Joko Widodo ada sebesar 30,5 persen. Pemilih ini menyatakan bakal memberikan dukungan kepada calon lain.

"Kampanye Pilpres belum dimulai. Lawan Jokowi pun belum melakukan kampanye secara masif. Artinya peluang para penantang untuk meraih dukungan lebih besar masih terbuka," kata Adjie.

Survei nasional dilaksanakan setelah pergelaran Pilkada Serentak 27 Juni 2018, dari 28 Juni sampai 5 Juli. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan responden 1.200 orang. Survei memiliki margin of error kurang lebih 2,9 persen. Survei ini juga dilengkapi dengan focus group discussion, analisis media dan wawancara mendalam.