Rabu, 18 Juli 2018 14:17 WITA

Nurani Strategic: Bacaleg Golkar Paling Lemah di Dapil 1 Sulsel

Penulis: Fathul Khair
Editor: Mulyadi Abdillah
Nurani Strategic: Bacaleg Golkar Paling Lemah di Dapil 1 Sulsel
Nurmal Idrus

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Syamsu Rizal alias Deng Ical urung bertarung berebut kursi DPR RI. Deng Ical tiba-tiba saja menyampaikan sikapnya itu ke DPP, beberapa hari saja menjelang pengajuan Bacaleg Golkar ke KPU RI.

Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus menyebut beberapa kemungkinan alasan yang membuat Wakil Wali Kota Makassar itu batal bertarung. Nurmal mengatakan, bisa saja, Deng Ical dapat misi khusus dari Ketua Partai Golkar Sulsel, Nurdin Halid.

"Pasti ada maksud Golkar dengan ini. Mungkin saja, Deng Ical diminta untuk mengelola Golkar. Dan disiapkan posisi lebih strategis di parpol itu," kata Nurmal kepada Rakyatku.com, Rabu (18/7/2018).

Atau mungkin juga kata dia, Deng Ical kembali diberi kesempatan untuk menyiapkan diri. Agendanya, agar bisa ikut pada pemilihan wali kota Makassar 2020 mendatang.

"Itu salah satu strateginya. Tapi menurut saya, Golkar menyimpan Deng Ical untuk mengurus partai, setelah semua potensi Golkar ikut bertarung. Istilahnya, Deng Ical disimpan untuk mengurus semua caleg," sambung Nurmal.

Lagi-lagi, Nurmal menyebutnya ada maksud tertentu Deng Ical tidak diikutkan pada Pemilu 2019.

"Menurut saya ini bagian dari strategi Golkar. Tapi saya pikir, agak rugi Golkar tak memasukkan Deng Ical dalam dapil 1. Padahal, Deng Ical adalah salah satu vote getter (pengumpul suara). Golkar butuh vote getter di dapil 1. Karena dari 3 dapil di Sulsel, potensi paling lemah ada di dapil ini," ujar mantan Ketua KPU Kota Makassar.

Padahal kata Nurmal lagi, andai saja Deng Ical maju, peluangnya bertarung melawan sesama kader Golkar di dapil 1 lebih besar. Misalnya melawan Hamka B Kady, Hoist Bachtiar, Ernawati Tahang, Hakim Kamaruddin, dan Risman Pasigai.

"Peluang Deng Ical jelas lebih terbuka. Dia idola di kalangan pemilih, terutama pemilih milenial. Basisnya di Makassar dan Selayar. Saya pikir Golkar di dapil 1 berpeluang menambah satu kursi dengan Deng Ical di sana. Dengan kondisi sekarang, saya pikir Golkar perlu upaya ekstra untuk menambah kursi, dibanding Pemilu 2014 yang hanya satu kursi," jelasnya.

Lalu keputusan Partai Golkar "menyimpan" Deng Ical ini sudah tepat?

"Ada plus minusnya. Tapi menurut saya, lebih strategis kalau dia ada di daftar caleg," pungkas Nurmal.