Senin, 16 Juli 2018 00:02 WITA

Pengakuan Korban Penyanderaan Terduga Teroris di Kaliurang

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Pengakuan Korban Penyanderaan Terduga Teroris di Kaliurang

RAKYATKU.COM - Densus 88 melakukan penyergapan terhadap tiga terduga teroris di Jalan Kaliurang Km 9,5, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Sabtu (14/7/2018) sore. 

Dalam penyergapan itu sempat terjadi baku tembak antara Densus 88 dengan tiga terduga teroris. Tiga orang terduga teroris tewas dan dua orang anggota Densus 88 mengalami luka sabetan senjata tajam.

Pihak kepolisian pun berhasil mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya sebuah pistol dan empat senjata tajam milik ketiga terduga teroris yang tewas.

Sebelum tewas ditembak Densus 88, seorang terduga teroris sempat berusaha melarikan diri dengan cara membajak sebuah truk bernomor polisi AB 8014 BK dan juga sempat menyandera seorang warga bernama Sulis Khusnul selama beberapa menit.

Setelah mengalami penyanderaan, Sulis saat ini masih dalam kondisi syok. Saat ini Sulis terpaksa pindah ke rumah mertuanya untuk menenangkan diri. Saat ditemui wartawan, Sulis masih enggan bercerita dan memilih berdiam diri di dalam kamarnya.

Menurut adik iparnya, Birowo, Sulis saat ini masih mengalami syok dan trauma. Sebab, Sulis sempat disandera selama beberapa menit oleh terduga teroris. Tak hanya itu, saat disandera, Sulis sempat dikalungi clurit oleh terduga teroris tersebut.

"Masih trauma dan belum bisa ditemui oleh siapapun. Setelah kejadian memang langsung diungsikan. Kakak ipar saya tidak mengalami luka karena disandera. Tetapi kakak ipar saya luka lecet akibat terjatuh saat melarikan diri bukan kena clurit," ujar Birowo di rumahnya yang berada di Desa Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman.

Biworo menceritakan terjadi penyanderaan berawal saat tiba-tiba ada sebuah truk yang masuk ke dalam halaman rumahnya. Truk itu sempat menabrak tempat parkir dan kemudian berhenti.

Saat itu Sulis dan suaminya yang bernama Gito keluar rumah untuk melihat kondisi. Saat itu tiba-tiba, keluar seorang terduga teroris dari dalam kabin truk sambil membawa celurit. Gito pun berhasil lari sedangkan istrinya, Sulis tertangkap dan dikalungi celurit oleh seorang pelaku.

"Langsung menghampiri dan mengalungi celurit. Tidak ada permintaan macam-macam, tapi sempat bertanya keberadaan salah satu temannya ke kakak ipar saya. Kakak ipar saya disanderanya enggak lama. Saat terorisnya lengah, kakak ipar saya berhasil melarikan diri dengan menyikut teroris itu. Kemudian kakak ipar saya pun lari menyelamatkan diri," tutur Birowo menirukan cerita Sulis.

Sedangkan menurut saksi mata lainnya yaitu penghuni kos di sekitar rumah Sulis, Emalinda menceritakan saat kejadian dirinya sempat mendengar suara benturan keras akibat truk yang dibajak terduga teroris menabrak bangunan. Emalinda pun kemudian keluar untuk melihat ada kejadian apa.

"Saat saya keluar ada seseorang berpakaian hitam, celana hitam dan mengenakan helm full face keluar dari truk. Bawa senjata saat itu. Karena takut saya pun masuk lagi ke kamar. Saat itu saya dengar suara letusan senjata api berkali-kali," ulas Emalinda, dilansir laman Merdeka.

Emalinda mengaku sempat terjebak di dalam kamar kos dan tak berani keluar selama hampir satu jam. Emalinda bersama seorang rekannya bernama Esti baru berani keluar kamar setelah dievakuasi oleh polisi.

"Sekitar satu jam terjebak di dalam (kos). Polisi sempat memberi perintah kalau ada orang didalam teriak, saat teriak itulah pintu didobrak dan kami dievakuasi. Suara tembakan sekitar kam 18.06," tukasnya.

Tags