Sabtu, 14 Juli 2018 12:57 WITA

Ini Kisah Rosida, Guru yang Menemukan Bakat Lari Zohri

Editor: Aswad Syam
Ini Kisah Rosida, Guru yang Menemukan Bakat Lari Zohri
Rosida (ketiga dari kiri) bersama Zohri (ketiga kanan) dalam sebuah latihan. Sumber: dok Rosida.

RAKYATKU.COM, MATARAM - Nama Lalu Muhammad  Zohri masih terus dibicarakan. Itu setelah dia memberi kejutan, menjuarai lomba lari 100 meter kejuaraan dunia U-20 di Tampere, Finlandia, 11 Juli 2018.

Namun kurang yang mengetahui, kalau bakat Zohri ditemukan guru olahraganya sewaktu di SMP Negeri 1 Pamenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Namanya Rosida, usianya 46 tahun.

Dilansir dari Tempo, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Nusa Tenggara Barat, Husnanidiaty Nurdin mengatakan, Zohri ditemukan bakat larinya oleh Rosida, guru olahraga yang sering mengajak dan membujuk  Zohri untuk latihan karena sudah terlihat bakat dan skill.

Namun Zohri selalu menolak, karena dia berminat pada sepak bola. Setiap teman-temannya latihan sprint sebagai ekstrakokurikuler, Zohri yang setiap hari berangkat ke sekolah tanpa alas kaki, hanya menonton.

Rosida tak berhenti membujuk. Pada saat duduk di bangku kelas 3  SMP, Zohri baru punya keinginan untuk latihan. 

Guru tamatan jurusan Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan IKIP Mataram tahun 1995 ini, terus ngotot mengarahkan Zohri menjadi atlet atletik.

''Alhamdulillah feeling saya benar. Sudah dua atlet yang mengorbit ke tingkat nasional,'' kata Rosida kepada Tempo, Jumat (13/7/2018).

Rosida, yang sewaktu sekolah di Sekolah Guru Olahraga Mataram 1988 - 1991 menjadi pelompat jauh, mengatakan bahwa atletik itu adalah olahraga melawan diri sendiri. Ia yang kelahiran Jotang, Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa - 98 kilometer arah timur dari kota Sumbawa Besar, pernah mengikuti Kejurnas Kelompok Umur di Stadion Madya Jakarta, 1990.

Usianya waktu itu 16 tahun, juara Pekan Olahraga Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berprestasi karena lompatannya 4,75 meter. Sewaktu di Stadion Madya, yang seharusnya kelompok usia 14 tahun, Rosida hanya mengikuti eksibisi, lompatannya 4,68 meter. Juara Kejurnas dari Sulawesi Selatan waktu itu lompatannya 6,21 meter. ''Dari sini saya berjanji menanamkan keyakinan bahwa anak NTB bisa berprestasi. Bukan saya saja,'' ucapnya.

Pertemuannya dengan Zohri adalah ketika mengajar di SMP Negeri 1 Pamenang sejak 2005 sebagai guru kontrak. Ketemu Zohri tahun 2012 - 2013 sewaktu kelas 7 SMP Negeri 1 Pamenang. ''Saya punya feeling punya rasa,'' katanya. Ia memperhatikan postur tubuh dan tungkai serta gerak jalan cocok untuk menjadi pelari.

Katanya, seorang sprinter harus dilihat tungkai, cara jalan dan gerakan. Postur bagus belum tentu bagus lari, karena keseimbangan tubuh dan cara jalan, serta ukuran tubuh proporsional.

Dari dorongan itu, akhirnya Zohri mau belajar dan berlatih sebagai pelari. Ia makin tekun ketika memasuki SMA. Rosida mengaku setiap Zohri akan pergi mengikuti lomba walaupun sudah di Jakarta, tetap pamitan dan memberitahu rencana kepergiannya.

''Selain pamit juga minta didoakan. Ke Finlandia ini dia juga pamit,'' ucap Rosida.

Setelah tampil di Finlandia, kini Zohri menatap Asian Games 2018.